Tekan Penyebaran TBC, Dinkes Indramayu Gencar Sosialisasi dan Screening Penanggulangan TBC di Tempat Beresiko



Reporterjabar.com - Indramayu, Menurut data di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Indramayu, hingga kini ditemukan sebanyak 18.818 kasus TBC. Jumlah tersebut berdasarkan hasil riset dari jumlah penduduk yang ada di kota mangga. Oleh karena itu, instansi terkait melakukan sosialisasi dan screening TBC di tempat yang beresiko.

Plt Kepala Dinkes Kabupaten Indramayu, dr. Wawan Ridwan melalui Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dede Setiawan mengatakan, untuk melakukan pencegahan dan penanganan TBC pihaknya melakukan sosialisasi dan screening meliputi wilayah yang populasi penduduknya padat atau pemukiman yang masih agak kumuh. 

“Kami akan melakukan pendataan untuk kemudian diolah lalu akan melakukan penanganan yang efektif untuk menekan laju penyebaran TBC,” katanya, Selasa (19/07/2022).

Ia melanjutkan, dari sebanyak 18.818 kasus TBC di Kabupaten Indramayu Jawa Barat, baru sebanyak 11,9 persen ditemukan sisanya masih dilakukan penelusuran.

“Untuk mendapatkan data yang akurat berapa jumlah pengida TBC kami melibatkan tenaga kesehatan Puskesmas dan lainnya. Upaya itu bisa dikatakan jemput bola,” imbuhnya.

Ia melanjutkan, sosialisasi dan screening juga dilakukan di tempat yang beresiko lainnya seperti pesantren dan Lembaga pemasyarakatan (LP).

“Pemukiman padat penduduk, pesantren dan Lapas merupakan tempat yang beresiko tinggi penyebaran TBC. Oleh karena itu kami juga bekerjasama untuk penanganannya, kami fokus untuk melakukan sosialisasi disana, karena resiko penularannya juga tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, TBC bisa disembuhkan dengan minum obat secara rutin sesuai dengan anjuran dokter. Jika pengobatan ini terhenti atau terputus di tengah jalan maka akan diulang dari awal, tentunya waktu penyembuhan akan lebih lama.

“Sekarang itu untuk pengidap TBC minum obatnya selama 6 bulan. Lalu dievaluasi, kalau sudah negatif berarti dia sudah tidak minum obat lagi. Tapi kalau putus di tengah jalan akan terjadi kebal obat, yang menyebabkan waktu penyembuhannya lebih lama,” terangnya.

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers