Aher Pemuda Yang TerusMelestarikan Makanan Tradisional Di Subang

Reporterjabar.com - Mungkin banyak yang tidak lagi mengenal Awug atau Dodongkal. Menu sarapan pagi ini, terbuat dari tepung beras yang dicampur parutan kelapa, daun pandan wangi dan gula merah, kemudian dikukus di atas api sedang.

Mencari Awug di Subang, Jawa Barat, jarang ditemukan. Dibandingkan menu sarapan lainnya, seperti nasi uduk, nasi kuning, dan lontong sayur.

Salah seorang produsen yang masih bertahan ialah Agan Herlambang yang disapa Aher, awal dari berjualan Awug atau dodongkal ia geluti setelah keluar dari dunia perbankan tempat dia bekerja. Baginya berjualan awug atau dodongkal merupakan usaha turun temurun, yang mesti dipertahankan sama halnya dengan seni tradisional,  Awug masih sangat digandrungi sampai saat ini. Camilan yang terbuat dari tepung beras, kelapa parut, gula aren, vaneli dan garam ini masih bisa didapat di kota Subang termasuk Awug Dolog. 

Gula aren yang dipakai untuk membuat awug adalah gura aren kawung. Gula aren dihaluskan hingga berbentuk kerikil. Kelapa parut dengan kematangan sedang dipadukan dengan tepung beras.

Sedangkan kelapa parut untuk topping awug menggunakan kelapa yang direbus selama satu jam. Kelapa parut direbus supaya tidak mudah basi.

Tepung beras, kelapa parut, gula aren, vaneli dan garam dikukus menggunakan alat khusus. Di dalamnya diisi air sekitar dua liter dan daun pandan. Jika air belum matang, membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mengkukus awug. Jika air sudah mendidih, hanya lima menit sampai awug matang.

"Sehari bisa 30 aseupan habis. Satu aseupan bisa dibuat delapan dus awug," ujar Aher, pegawai sekaligus pemilik Awug Dolog, saat ditemui di acara Festival tari jaipong se-Jawa Barat di Musium Subang,

Awug dibungkus di dalam dus. Awug di dalam dus kecil dibanderol Rp 8 ribu. Jika kurang puas, dus besar bisa jadi pilihan, harganya Rp Rp 10 ribu. Satu aseupan awug dijual Rp 100 ribu. Awung ukuran nyiru besar dipatok seharga Rp 250 ribu. Awug seukuran nyiru kecil bisa dibawa pulang dengan harga Rp 175 ribu.

"Kami banyak menerima pesanan seperti dari Polres, Instansi Pemerintah, atau acara Ulang Tahun," ungkap Aher.

Awug, menurut Aher cocok dihidangkan di berbagai kesempatan, Tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan, awug bisa bertahan selama satu hari. Sedangkan jajanan pasar yang rata-rata dijual Rp 1000 hanya mampu bertahan kurang dari satu hari. "Enggak bisa buat besok kalau jajanan pasar," katanya.

Awug Dolog setiap hari beroperasi di depan lapang Bola Dolog, Pelanggan sudah bisa membeli jajanan di sana mulai pukul 08.00 hingga 21.00.

"Biasanya kalau ada acara-acara atau semacam festival seperti sekarang di Museum Subang ini saya ikut buka, itung-itung memperkenalkan kembali makanan tradisional agar kaum milenial juga mengetahui akan kenikmatan makanan tradisional ini." ujar Aher.

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers