Padepokan Jejer Djati dan Van's Jejer terus melestarikan budaya tradisional di Kabupaten Subang

 



Reporterjabar.com- Dengan mengalami akulturasi, kesenian debus dengan tradisi lokal bahkan teknologi modern, maka secara tanpa disengaja, kesenian ini pun mengalami penyusutan kemurniannya, atau dengan kata lain, debus sudah mengalami pergeseran.

Debus adalah salah satu bentuk seni beladiri yang lebih mempertunjukkan kekuatan tubuh manusia yang luar biasa, seperti ketahanan terhadap pukulan benda keras, panas api, kebal terhadap senjata tajam dan lainnya.

Awalnya, kesenian ini diciptakan sebagai media dakwah penyebaran agama Islam. Mengingat masyarakat disana waktu itu masih menganut Agama Kepercayaan lain. Setelah bermunajat  bersama santri-santinya kepada Allah SWT, beliau membuat seperangkat alat tetabuhan dari batang pohon pinang yang dilubangi tengahnya dan bagian atasnya ditutup dengan kulit kambing. yang ketika dipukul, alat tersebut mengeluarkan bunyi yang  unik juga bervariasi. Tetabuhan tersebut dimainkan untuk mengiringi sholawat, barjanji, dan puji-pujian yang mengagungkan nama Allah SWT.

Ditengah derasnya arus globalisasi, salah seorang seniman debus di Desa Jabong Kampung Cihonje Kecamatan Subang, terus menggelorakan kesenian tradisonal yang di wariskan sejak jaman Sultan Maulana Hasanudin Banten, yakni Debus.

“Kami hanya meneruskan saja, agar budaya dan seni tradisional sunda hususnya kesenian Debus jangan hilang,” kata Ketua padepokan " Van's jejer " Ipandi asdar kepada kontributor 19/6

kang Aji dari padepokan jejer djati  merasa prihatin melihat antusiasme masyarakat yang begitu minim terhadap kesenian debus, dan tidak hanya Debus banyak kesenian tradisional sudah mulai di lupakan Padahal kata dia, kesenian tradisonal itu tidak boleh hilang.

“Semakin kesni, kalau kita tidak menggalakan terus, pemuda di lingkungan kita akan semakin tergerus oleh budaya luar,” ujarnya.

Namun ditengah kesadaran Kang Aji terhadap kesenian tradisonal, tidak di barengi oleh perhatian dari pemerintah Kabupaten Subang Sehingga, Kang Aji harus memutar otak, supaya kesenian yang dia ajarkan kepada murid-muridnya itu tetap berjalan.

“Saya merasakan, dari dulu pemerintah hanya menggembor-gemborkan, tolong kesenian tradisonal jangan di hilangkan. Tetapi kenyataannya ke kami, belum ada sedikitpun bantuan,” ungkapnya.

Padepokan Jejer djati, hari ini memamerkan Debus Banten menunjukan kepada para pengunjung, tentang kebudayaan lokal di Subang. Cara itu, dinilai Kang Aji bakal menarik perhatian sejumlah wisatawan kepada kesenian Debus hususnya, umumnya kesenian tradisional yang ada di kabupaten subang.



Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers