Keberadaan Tim TOS Subang Dipertanyakan

Reporterjabar.com - Keberaadaan Tim Optimalisasi dan Sinkronisasi (TOS) dipertanyakan terutama fungsi dan peranannya di Pemda Kabupaten Subang. Hal tersebut diungkapkan oleh pegiat sosial Andi L. Hakim dalam Sarasehan Lintas Generasi yang bertajuk "Evaluasi Tiga Tahun Kinerja Bupati dan Wakil Bupati Subang Jimat – Akur" di aula Bawaslu Subang, Jumat (28/1/2022).

Kata dia secara tupoksinya pun dinilai tumpang tindih dengan keberadaan Staf Ahli Bupati yang selama ini sudah ada.

Sedangkan hasilnya kata dia masih banyak permasalahan yang belum terselesaikan seperti masalah industrialisasi yang belum menyelesaikan masalah pengangguran, dan menyisakan berbagai masalah seperti dampak sosial, adanya penyakit masyarakat, masalah air bersih dan lainnya. "Kita tidak menolak industri, namun harus ada dampak postifnya, minimal PAD meningkat dan masyarakat tidak menganggur," katanya.

Lalu masalah pendidikan di Kabupaten Subang. Masih ditemukan sekolah yang tidak layak baik itu sarana prasarana maupun jumlah pendidiknya. "Ini berdampak pada  IPM Kabupaten Subang yang masih rendah," katanya.

Kemudian Ketua Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) Kabupatén Subang, Enjang Taufik Hidayat menyoroti terkait penempatan pejabat Pemkab Subang dirinya berharap adanya open bidding yang prosesnya transparan. "Silahkan pemerintah menempatkan pejabat, tapi minimal open biddingnya terbuka, kemudian nilai hasil open bidding disampaikan, sedangkan saat ini saya kira belum terbuka artinya pemerintah jangan melakukan kebohongan publik," tegasnya.
Kemudian dia berharap posisi di setiap lini pemerintahan diisi orang tepat karena kasihan pemerintahannya ketika diisi dengan orang yang tidak tepat. "Kita mendorong jalannya pemerintah agar sesuai track jangan disalahgunakan untuk urusan politik," ujarnya.

Peserta lainnya, Yuga, menyoroti banyaknya warga Subang yang tidak bisa bekerja di perusahaan yang berada di wilayahnya sendiri. Masalahnya adalah daya saing SDM Subangnya sendiri yang kurang mampu bersaing dengan pendatang. Hal ini juga terkait dengan pendidikan di Kabupaten Subang.

Acara sarasehan ini diselenggarakan oleh Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Subang. Ketua Pospera, Ahmad Baedhowie menyatakan kegiatan sarasehan untuk mengungkapkan kegelisahan kita terhadap Subang dan sebagai kontrol kebijakan pemerintah. Ahmad Baeodewi berharap diskusi ini terus berlanjut dengan mendatangkan para ahli dan pihak terkait. Mengenai TOS dirinya mengatakan tergantung persepsi masing-masing,  optimis atau pesimis. "Jika kita optimis masa depan Subang, berarti kita dorong pemerintah dengan mengontrol kebijakan pemerintah itu sendiri, kita kuatkan barisan kita. Saya tetap optimis masa depan Subang, jika tata kelola pemerintah dan penyampaian progran ke bawah tuntas apalagi permasalahan birokrasi. Siapapun pemimpinnya, jika tidak tegas terhadap birokrasi tidak akan maju," katanya.

Maka dari itu hasil dari sarasehan ini akan dicatat kemudian diserahkan kepada pemerintah sebagai bahan masukan pada pembangunan yang tengah dilaksanakan.

Hal senada disampaikan praktisi hukum Subang, Irwan Yustiarta, SH, menyatakan sarasehan ini sebagai bentuk kecintaan pada Kabupaten Subang. "Kita mengadakan kegiatan ini sebagai bentuk rasa cinta kepada Kabupaten Subang. Tidak ada dan tidak boleh ada rasa benci," katanya.

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers