Di Tangan Seorang Polisi yang terus Melestarikan Budaya Dan Pengrajin kecil

 


Kabupaten Subang merupakan salah satu sentra patung ukiran kayu, dimana usaha produksinya dengan jenis komoditi  golok ukir, kujang ukir dan miniatur binatang. Salah satu pengrajin di Kampung kamarung Rt. 26 Rw.05 Desa Pagaden, mengembangkan ukiran kayu solder yang memiliki keunggulan tersendiri.

Reporterjabar.com-Seni-Subang- Ukiran yang menggunakan kayu lame sebagai bahan bakunya, memiliki banyak keunggulan. Selain mempunyai tekstur permukaan yang lembut, pori-pori relatif kecil, mudah dibentuk, dan mempunyai daya tahan yang tinggi sehingga sangat sesuai dengan cara pemberian motif untuk produk ukiran kayu.

Jenis komoditi ukiran kayu lame, antara lain, golok, kujang, macan, sisingaan, golek dan masih banyak jenis miniatur binatang lainnya. Sesuai dengan jenis pesanan dari buyer,

Salah satu pengrajin di Kampung kamarung rt. 26 rw. 05 Desa Pagaden, sekaligus pemilik saung kerajinan "Manggala Pamungkas" Aiptu M. Komarudin yang sekaligus anggota aktif di Mapolsek Binong Subang  menjelaskan, seni kayu ukir solder merupakan seni khas Kabupaten Subang.

tidak hanya menggeluti dunia ukir Komarudin pun aktif memberi pelajaran silat kepada anak-anak yang ingin belajar seni bela diri buhun itu dan banyak merekrut anak yang memiliki talenta di dunia seni seperti Dalang, karinding, Gamelan dan yang lainnya.

Aiptu M. Komarudin menggeluti dunia ukir dan mengajar seni bela diri ini sudah kurang lebih 3 tahunan , namun akibat kurangnya perhatian dari pemerintah beberapa pengrajin dan pelaku seni lain beralih profesi.

“Di daerah pagaden ini semula satu kampung pengrajin semua, sekarang yang aktif sisa beberapa pengrajin, selebihnya alih profesi,” jelas Aiptu M. Komarudin kepada reporterjabar.com.

Aiptu M. Komarudin berpendapat, kurangnya komunikasi antar pengrajin dan penggiat seni berakibat pada susah berkembangnya pasar, bagi setiap produk kerajinan khususnya kayu ukir solder itu sendiri. Terlebih saat awal pandemi , hingga saat ini.
perhatian dan dukungan Pemerintah Daera selama ini juga menjadi kendala tersendiri.

“Misalkan saya mampu memasarkan karya saya hingga ke Taiwan, Inggris, Jepang itu murni karena kelincahan saya menjalin relasi dengan buyer. Sementara berpikir bagaimana nasib pengrajin lain, pelaku seni yang lain? Kan bukan hanya saya saja yang pengrajin,” katanya.

Artinya, Aiptu M. Komarudin berpendapat, hari ini pengrajin berjalan sendiri-sendiri. Sudah saatnya Pemda mempersatukan pengrajin kayu dan pelaku seni di beri wadah hingga memfasilitasi.

“Saya sudah ajukan ke dinas agar ada satu stand khusus sovenir  untuk jual karya pengrajin-pengrajin Subang minimal galery kecil di pusat kota Subang, namun sampai hari ini belum terealisasi. Apalagi menghadapi Subang ke depan sebagai salah satu Kabupaten segitiga emas Jawa Barat, momentumnya bagus,” jelasnya sambil berapi-api.(//HP)
hasil produksi dari tangan terampil binaan Aiptu M. Komarudin




Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers