Diduga Developer Tak Bertanggungjawab, Konsumen Ditelantarkan Selama Lima Tahun

Bogor, 05 Oktober 2021 - Bermula disaat masyarakat berinisial N (45) seorang wiraswasta ayah beranak satu ini hendak ingin memiliki rumah untuk isteri dan anaknya.

Pada bulan November 2016, N tertarik atas adanya marketing perumahan bukit mekar wangi yang beralamat di Kelurahan Mekar Wangi Kecamatan Tanah Sareal Kota Bogor, yang dikelola oleh PT. Manakib Rezeki yang dipimpin oleh sdr. Hamzah selaku direktur dari perusahaan tersebut.

Pada akhirnya tanggal 13 Desember 2016, N membeli kavling tanah berikut bangunan secara tunai keras (lunas) di blok C 10 No. 15 Perumahan Bukit Mekar Wangi.

Akan tetapi hingga sampai saat ini, N belum mendapatkan kepastian yakni penandatanganan Akta Jual Beli (AJB). Padahal di dalam perikatan PPJB dijelaskan secara jelas bahwa disaat konsumen membayar lunas maka langkah berikutnya adalah penandatanganan AJB antara kedua belah pihak.

Dengan adanya peristiwa tersebut, N meminta bantuan hukum ke Kantor Hukum Sembilan Bintang & Partners.

Kuasa Hukum N, menuturkan bahwa perbuatan PT. Manakib Rezeki dibawah manajemen Elang Group ini bukan kali pertamanya buat ulah. Banyak permasalahan yang didapat oleh para konsumen atas manajemen buruk perusahaan developer tersebut.

Perusahaan developer ini memang bandel, saya tak habis fikir kok bisa pemerintahan Kota Bogor memberikan akses kepada perusahaan developer semacam ini. Harusnya ditutup dan jangan diberikan ruang kembali, karena selain merugikan banyak konsumen, perusahaan semacam ini bisa mencoreng nama baik Kota Bogor.

Berdasarkan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, developer semacam ini bisa dipidanakan, selain digugat melalui jalur perdata. Karena pertimbangannya adalah banyak korban dan perbuatannya seringkali dilakukan (tidak hanya sekali). Sehingga sangat layak aparat penegak hukum serta jajaran Pemerintahan Kota Bogor yang terkait dapat bersikap tegas dengan memberikan sanksi yang serius baik administrasi maupun pidana.

Saya sudah melayangkan surat somasi sebanyak 3 kali, akan tetapi pihak perusahaan no respon. Entah gak bisa baca somasi atau memang tabiatnya begitu, entahlah saya kurang tahu.
Somasi ketiga akan berakhir di hari jumat, bila pihak perusahaan masih tidak mengindahkan bunyi somasi ini, dengan sangat terpaksa kami melanjutkan ke jenjang langkah hukum berikutnya yakni Laporan Kepolisian atau gugatan.

R. Anggi Triana Ismail, S.H.
Ketua Tim Kuasa Hukum N

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers