Revitalisasi Béas Pérélék Bantu Kepentingan Umum

Adityafmsubang.net - Suatu sore Rabu (22/9/2021) penulis berjalan-jalan ke daerah Babakan Bandung sekitar RT. 59/09 Kelurahan Dangdeur Subang, terlihat setiap rumah terpasang bekas botol minuman yang atasnya dipotong. Penulis mendapat informasi itu adalah untuk menyimpan uang yang akan digunakan untuk kepentingan warga.
Penasaran penulis mencari tahu dengan mampir ke salah satu warung yang terpasang botol bekas minuman. Pemilik warung, Ma Eméy (60 tahun) menjelaskan bahwa potongan botol yang ditempel itu untuk menyimpan uang beas perelek. Setiap malam dipungut petugas ronda untuk diserahkan kepada Ketua RT Lalu seminggu sekalil disetorkan ke bendahara. "Engké wengi dicandakan ku ronda teras disetorkeun ka RT. Saminggu sakali disetorkeun ka bendahara," jelas Ma Eméy dalam bahasa Sunda.

Lalu kata Ma Eméy besaran beas perelek menurut aturan tertulis sebesar Rp500 setiap rumah. Tetapi kebanyakan bahkan hampir semuanya menyimpan paling kecil Rp2.000 "Saur aturan mah 500 rupia. Seuseueurna mah paling alit dua réwu, Kang," katanya sambil beres-beres barang dagangannya.

Mengenai penggunaannya, kata Ma Eméy untuk kepentingan warga seperti biaya pemulasaraan jenazah bila ada warga yang meninggal dan biaya kebersihan tempat pemakaman.
Ketika ditanyakan apakah tidak khawatir diambil maling?
"Tidak (khawatir). Siapa atuh yang berani ngambil uang receh. Selama ini aman-aman waé. Rondanya juga apal orangnya," katanya.

Kemudian dijelaskan sebelumnya pengumpulan dana warga dilakukan setiap bulan dengan keliling oleh petugas yang besarannya Rp5.000 per Kepala Keluarga. Lalu teknisnya berubah dengan cara dipungut ronda setiap malam. Jumlahnya juga jadi lima ratus rupiah per malam.

Dengan limaratus semalam tidak terasa. Tetapi secara jumlah ternyata lebih besar. "Dari lima ribu rupiah, teu karaos ayeuna mah janten 15 réwu. Bari teu karaos deuih," katanya. 

Kata Lurah Dangdeur, Junaedi tradisi ini sangat membantu kemandirian warga dengan cara gotong royong dalam menyelesaikan kepentingan umum di sekitarnya. "Kalau sebelumnya warga mengandalkan bantuan pemerintah. Dari kelurahan. Sedangkan anggaran kelurahan, 'kan sudah ditetapkan peruntukannya. Lalu kami bahas dalam rapat minggon. Akhirnya ada kesepakatan seperti sekarang," tutur.

Junaedi menuturkan ternyata teknis béas pérélék ini banyak gunanya yaitu mengetahui kondisi warga secara langsung. "Pernah tengah memungut béas pérélék, ternyata ada salah satu ibu yang mendadak hendak melahirkan. Waktu itu suaminya cukup panik juga. Akhirnya segera membawanya ke klinik bersalin. Pernah juga ada rumah yang mungkin pemiliknya lengah ada api membara. Segera dipadamkan sebelum kejadian kebakaran," tutur Junaedi.

Dengan merevitalisasi dan memodifikasi tradisi béas pérélék ini, kata Junaedi lebih lebih terlihat hasilnya membantu membangun sarana kepentingan umum. Seperti di daerah Werasari dari dana béas pérélék berhasil membangun balai musyawarah dan pos ronda yang sederhana menjadi pos ronda permanen.

Terlebih ketika memasuki masa pandemi, semangat gotong royong seperti ini bisa membantu bagi warga yang isolasi mandiri. Bantuan dari Dinas Sosial dibantu oleh dana béas pérélék lalu dibuat paket. Hasilnya jadi lebih besar dan mampu mencukupi selama warga yang melakukan isolasi mandiri. "Termasuk menanggulanginya sekarang dalam vaksinasi, dana béas pérélék ikut berpatisipasi. Sekedar memberikan nasi kotak untuk petugas vaksin," kata Junaedi.

Telah Dimuat di Adityafmsubang.net dengan judul Revitalisasi Béas Pérélék untuk Warga

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers