Natsir, A Hassan, dan Persatuan Islam (Bagian ke 4 - Habis)


Oleh: Artawijaya

Majalah Pembela Islam awalnya didirikan untuk mengkonter ceramah seorang pendeta Kristen Protestan A. C Christoffels yang berjudul _Muhammmed als profeet_ (Muhammad Sebagai Nabi). Ceramah itu diberikan Christoffels pada tahun 1929 kepada murid-murid AMS Bandung, termasuk Natsir, yang diwajibkan oleh guru-guru di AMS untuk ikut hadir mendengarkan ceramah yang disampaikan di gereja itu. Natsir yang sudah aktif di Persis, merasa tak nyaman dengan ocehan Pendeta Christoffels yang menganggap Nabi Muhammad saw tal lebih hanya sebagai jalan yang dianggap membukakan kebenaran Kristus yang sebenarnya. Christoffels juga menghina Nabi saw sebagai orang yang mempunyai nafsu seksual yang besar. Intisari ceramah itu kemudian disebarkan lewat surat kabar berbahasa Belanda _Algemeen Indisch Dagblad_ (AID)

Karena itu, atas nama Komite Pembela Islam bantahan terhadap tulisan Pendeta Christoffels dibuat. A Hassan menyerahkan kepada Natsir untuk menulis bantahan itu, karena bantahan yang akan dibuat ditulis dalam bahasa Belanda. "Tuan Natsir yang akan menulis jawaban itu, bukan? Maka tuanlah yang harus menyusunnya. Lagi pula, bantahan ditulis dalam bahasa Belanda. Saya tidak bisa bahasa Belanda," ujar A Hassan sambil memberikan setumpuk bahan bacaan kepada Natsir. Begitulah cara A Hassan mendidik Natsir. Meski ia sendiri bisa menulis bantahan itu, dan meminta Natsir untuk menerjemahkannya dalam bahasa Belanda, namun A. Hassan lebih memberikan kesempatan kepada muridnya untuk bisa membantah isi tulisan pendeta tersebut. A Hassan tak ingin menonjolkan dirinya sendiri.

Alhasil, bantahan itu dikirim ke Surat Kabar AID. Tulisan atas nama Komite Pembela Islam itu kemudian dibantah oleh Pendeta Christoffels dalam edisi selanjutnya. Komite kemudian meminta Natsir untuk membuat bantahan kedua. Tapi sayang, kali ini AID tidak berkenan memuatnya. Karena kecewa, akhirnya Natsir dan kawan-kawan di komite membuat Majalah Pembela Islam. Tulisan Natsir berjudul _Muhammad als Profeet_ yang berisi bantahan terhadap pendeta Christoffels dimuat dalam majalah ini.

Pada tahun 1931, umat Islam digemparkan oleh tulisan seorang pendeta Ordo Jesuit J.J Ten Berge yang menulis dua artikel berisi penghinaan terhadap al-Quran. Tulisan yang dimuat di _Jurnal Studien_ menyebut Al-Quran sebagai koleksi dongeng-dongeng, cerita buatan, dan cerita-cerita yang disalahpahami. Laporan mengenai kontroversi tulisan ini dimuat di kalangan pers berbahasa Melayu yang terbit di Batavia.

Komite Pembela Islam tak tinggal diam. Mereka kemudian memuat tulisan Natsir berjudul _Qur'an an Evangelie_ di Majalah _Pembela Islam_ dan menyebarkannya dalam bentuk brosur. Situasi kian memanas, karena Persis meminta Residen Bandung dan Jaksa Agung untuk membawa kasus ini ke pengadilan. Sejarawan Belanda, Karel Steenbrink, yang meneliti tentang politik kolonial Belanda terhadap Islam mengatakan, yang menggerakkan perlawanan terhadap misionaris Belanda yang melecehkan Islam ini adalah seorang pemuda berusia dua puluh tiga tahun, yang bernama Mohammad Natsir."Sejak 1930 dan seterusnya ia (Natsir, red) membuktikan diri sebagai pengamat yang cerdas dan kritis mengenai politik kolonial terhadap Islam di dalam sejumlah artikel dan Majalah _Pembela Islam," ujar Steenbrink dalam buku _Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam 1596-1942_.

Tak hanya Ten Berge, Natsir juga terus mengkritisi fitnah dan cemoohan para misionaris Belanda seperti Hendrik Kreamer dan Boetzelar. Natsir juga mengeritik sikap pemerintah kolonial yang bertindak tidak adil dalam menangani reaksi umat Islam terhadap tulisan-tulisan yang sangat menghina itu. Jika umat Islam menulis bantahan terhadap tulisan para misionaris itu, maka mereka akan mencap umat Islam sebagai penebar kebencian.Sedangkan para misionaris Belanda yang menghina Islam sama sekali tak tersentuh hukum. 

Nama Pembela Islam sendiri kian menjulang karena artikel-artikelnya yang berisi pembelaan terhadap ajaran-ajaran Islam. Selain A Hassan dan Natsir, nama-nama seperti Haji Agus Salim dan Hamka juga pernah menulis di media ini. Setelah _Pembela Islam_ A Hassan juga membuat majalah pengganti bernama _Al-Lisan_ yang juga dijadikan media advokasi bagi umat Islam. 

Tak hanya kalangan misionaris Kristen yang menjadi sasaran kritik Natsir dan Persis. Namun juga kalangan yang mengusung paham kebangsaan seperti Seokarno. Polemik antara Soekarno dengan A Hassan dan Natsir juga dimuat dalam Majalah Pembela Islam. Polemik dengan Soekarno utamanya tentang agama dan negara. Soekarno yang terbius paham sekular Mustafa Kemal Attaturk mengatakan agama mesti dipisahkan dari negara. Sedangkan A Hassan dan Natsir menyatakan agama tak bisa dipisahkan dari negara, karena Islam adalah ajaran yang cakap dan cukup untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. A Hassan dan Natsir berpendapat hukum Islam harus tegak di tempat kaum muslimin tinggal. Sementara Soekarno menyatakan, hukum suatu negara harus disesuaikan dengan corak dan keadaan negara setempat. 

Sebelumnya, hubungan Soekarno dan A Hassan sangat terjalin erat. Saat Soekarno ditahan di Penjara Sukamiskin, Bandung, A Hassan dan aktvis Persis lainnya rajin membesuk, memberikan makanan dan buku-buku bacaan. Begitupun saat Soekarno dibuang ke sebuah pulau terpencil di Ende, Nusa Tenggara Timur, A Hassan tak pernah berhenti memberikan buku-buku hasil tulisannya kepada Soekarno. Dalam buku _Di Bawah Bendera Revolusi_ Soekarno menulis bab tersendiri berjudul _Surat-Surat Islam dari Ende_. Dalam bab ini Soekarno menceritakan rasa terimakasihnya karena A Hassan sering mengirimkan buku-buku bacaan keislaman dan kacang mede kesukaannya. Kepada A Hassan Soekarno juga menyatakan kekagumannya terhadap Natsir yang disebutnya sebagai "mubaligh bermutu" dari Persis.

Selain menerbitkan majalah, brosur dan buku-buku keislaman. Pada tahun 1936 Natsir dan A Hassan terlibat mendirikan Pesantren di Bandung. A Hassan menjadi kepala pesantren itu, sedangkan Natsir menjadi penasihat pendidikan dan guru di lembaga tersebut. Saat pesantren itu ditutup pada masa Jepang, Natsir juga memberikan andil kepada A Hassan untuk mendirikan Pesantren Persis di Bangil Jawa Timur. Hubungan murid dan guru itu berakhir dipisahkan oleh ajal yang menakdirkan A Hassan lebih dulu berpulang keharibaan-Nya pada 1958. Sementara setelah itu, gerak perjuangan Natsir di medan dakwah terus menderu.
                                                                                                 -----

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers