Natsir, A Hassan, dan Persatuan Islam (Bagian ke 2)

Oleh: Artawijaya

Meski produk didikan Belanda, A Hassan kagum dengan Natsir yang mempunyai keinginan kuat untuk memperdalam Islam. Tak jarang, Natsir lebih tepat disebut sebagai teman diskusi, ketimbang seorang murid. Lagi pula, A Hassan tak memberikan mentah-mentah ilmu agamanya kepada Natsir. Ia mempersilakan Natsir untuk mengkaji pendapatnya atau berdebat dengan hujjah masing-masing. Tak jarang A Hassan lebih suka memberikan setumpuk buku untuk dipelajari Natsir, ketimbang 'mendoktrinnya' secara langsung. Kebanyakan buku yang diberi A. Hassan adalah kitab-kitab berbahasa Arab. Inilah yang mendorong Natsir untuk lebih memahami dan memperdalam bahasa Arab.

Pertemuannya dengan A Hassan itulah yang membuat Natsir turut bergabung dalam organisasi Persatuan Islam (Persis). Di rumah A Hassan yang sempit itu, Natsir semakin larut mengikuti pengajian keagamaan yang diselenggarakan aktivis Persis. A Hassan sendiri, meski bukan pendiri Persis, namun namanya cukup terkenal sebagai tokoh Persis yang sangat faqih dalam bidang keislaman. Selain menguasai bidang agama, A Hassan juga dikenal dengan tulisan-tulisannya yang tajam dalam membela kemurnian ajaran Islam.

A Hassan, pria keturunan Tamil, India, pertama kali menginjakkan kaki di Bandung pada tahun 1924. Awal kedatanganya ke Kota Kembang itu bukan untuk menjadi guru agama. Ia ditugaskan oleh bibinya untuk mempelajari ilmu tekstil di Bandung, karena hendak dipercaya memimpin perusahaan tenun di Surabaya. Saat pertama kali ke Bandung, A Hassan tinggal di rumah Haji Muhammad Yunus, saudagar asal Minangkabau yang pada 12 September 1923 mendirikan organisasi Persatuan Islam (Persis) bersama H Zamzam.

(Bersambung)

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers