Natsir, A Hassan dan Persatuan Islam (Bagian 1)

Oleh: Artawijaya

Bagi Natsir, A Hassan adalah guru agama yang banyak mempengaruhi pemahamannya tentang Islam. Saat aktif di Persatuan Islam (Persis) Natsir dan A Hassan banyak membuat tulisan yang berisi pembelaan terhadap ajaran Islam yang dilecehkan oleh para misionaris Belanda dan kelompok nasionalis sekular.

Di sebuah gang sempit di Jalan Raya Barat belakang Pegadaian Negeri Bandung itulah Natsir muda pertama kali bertemu A. Hassan. Natsir yang saat itu duduk sebagai siswa _Algemene Middelbare School_ (AMS), sekolah setingkat SMA di Bandung, kerap mengunjungi kediaman A Hassan. 

Bersama teman-temannya yang aktif di _Jong Islamieten Bond_ (Perhimpunan Pemuda Islam) itu, Natsir sering menghabiskan waktu berjam-jam dengan A Hassan untuk memperdalam soal-soal agama. Jika Natsir berkunjung, A Hassan dengan senang hati menyambut, meskipun sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Di antara beberapa siswa AMS yang sering bertandang ke rumahnya, Natsir dan Fachroedin Al-Kahirilah yang menarik perhatian A Hassan. Kedua anak muda itu di mata A Hassan adalah sosok yang cerdas. Sebagai anak muda yang belajar di sekolah yang menggunakan sistem Barat, Natsir sangat fasih menguasai beberapa bahasa asing. Sebelum bertemu A Hassan, Natsir banyak membaca literatur Barat yang menulis tentang Islam. Hasil bacaannya itulah yang kemudian hari ia diskusikan dengan A Hassan, terutama menyangkut pandangan orientalis barat tentang Islam. (Sumber: Pusat Informasi Pesantren Persis Bangil)

(Bersambung)

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers