Tak Terima Dituding DPO, Istri Tersangka Tempuh Jalur Hukum



Reporterjabar.com - Cirebon, Ny. Fifi warga Kota Cirebon menggugat Kejaksaan Negeri Indramayu, Diskominfo Indramayu, dan Bidang Informasi Kecamatan Anjatan Kabupaten Indramayu Jawa Barat ke Pengadilan Negeri Indramayu. Gugatan dilayangkan, karena status DPO yang disandang suami Fifi yakni ES yang terjerat kasus narkoba dinilai tidak tepat. ES sendiri berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Indramayu Jo Putusan Pengadilan Tinggi Bandung Jo Putusan Mahkamah Agung, telah dovinis selama 5 tahun penjara. Pada 22 Oktoer 2020 lalu ia dikeluarkan dari Lapas Kelas II B Indramayu karena Surat perpanjangan penahanan dari Mahkamah Agung belum turun. Setelah itu, ES kembali menjalankan rutinitas kesehariannya seperti biasa bersama keluarganya. Namun, tanpa pemberitahuan apapun sekitar bulan April 2021 lalu, ES dinyatakan DPO oleh Kejari Indramayu. Mendengar kabar tersebut, ES didampingi istri dan kuasa hukumnya pada 13 April 2021 mendatangi Kejari Indramayu untuk melaksanakan eksekusi secara sukarela menjalani sisa hukumannya yang ditetapkan oleh Pengadilan. Keesokan harinya Ny. Fifi dibuat terkejut ketika melihat berita yang sudah disebar di media sosial dengan judul “Kejari Indramayu Berhasil Tangkap DPO Narkoba”.

Ny. Fifi, melalui kuasa hukumnya Dan Bildansyah mengatakan, pada Selasa (6/07/2021) kemarin secara resmi pihaknya sudah mengajukan gugatan terhadap 3 lembaga tersebut ke PN Indramayu atas dasar melawan hukum dalam memberitakan proses pelaksanaan eksekusi ES yang telah ditangkap dengan status buron.

“Padahal eksekusinya dilakukan ES secara sukarela,” katanya, Rabu 7/07/2021.

Ia melanjutkan, hingga kini ES belum menerima surat pemberitahuan putusan dari Mahkamah Agung yang menjadi bukti putusan atas perkaranya telah berkekuatan hukum tetap, termasuk salinan resminya.

“Istri ES tidak pernah menerima surat DPO atau buron. Padahal untuk masuk kategori buron harus ada beberapa tahapan seperti adanya surat pemanggilan, dua kali tidak datang lalu dicari tidak ketemu baru masuk DPO,” ujarnya.

Dalam gugatannya, pihaknya menuntut mengembalikan nama baik ES karena status DPO sangat memukul psikis Ny. Fifi dan keluarga terlebih anaknya yang menyaksikan penggeledahan rumah sekaligus tempat usaha, oleh petugas tanpa disertai surat resmi penggeledahan tersebut juga tidak didampingi Ketua Lingkungan setempat. Selain itu, pihaknya menggugat kerugian  material sebesar Rp 100 juta dan immaterial sebesar Rp 1 miliar.

“Anaknya Ny. Fifi yang berusia 21 tahun terpukul kejiwaannya, karena terkejut mendengar ayahnya besrtatus DPO dan petugas secara tiba-tiba menggeledah rumahnya.

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers