Bangunan Liar di Terminal Pamanukan Perlu Dibongkar, Merusak Wajah Tata Kota

Reporterjabar.com - Berdirinya sekitar 10 Bangunan liar di areal depan Terminal Pamanukan terkesan merusak wajah Terminal dan Tata Kota Pamanukan Kab. Subang.

Sementara dari berbagai sumber yang terhimpun Wartawan, bangunan liar di terminal Pamanukan di komersilkan yaitu di sewakan oleh oknum di patok harga  mencapai 600 ribu per bulan per bangunan.

Menurut, Hendrik, Aktivis dan Pemerhati Lingkungan asal Pamanukan, pada Wartawan mengatakan sebaiknya keadaan terminal dikembalikan ke semula. Karena dengan berdirinya bangunan liar, tata kota menjadi kumuh.

"Terminal Pamanukan harusnya di kembalikan ke semula, adanya bangunan liar di terminal menjadi kumuh dan merusak tata kota Pamanukan," tuturnya Minggu (21/2/21).

Kata Hendrik, adanya bangunan itu mengundang rawan konflik, pasalnya di jadikan warung remang - remang (kafe) kalau malam tentunya berkeliaran penjaja seks.

Lebih jauhnya menurut Hendrik, sebaiknya bangunan liar itu dibongkar, harus dikembalikan ke semula sebagai terminal, dalam hal ini harus ada tindakan tegas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kecamatan Pamanukan ataupun Kabupaten Subang.

Hal senada dikatakan Ikin, Tokoh Pamanukan, mengatakan bahwa adanya terminal dalam hal ini Dinas Perhubungan (Dishub) harus bersinergi dengan Dinas Pasar, berkaitan dengan rencana perbaikan dan revitalisasi pasar pamanukan pacsa kebakaran. "Pengelolaan terminal (Dishub) harus bersinergi dengan Dinas Pasar, terkait perbaikan pasar Pamanukan pasca kebakaran belum lama ini," katanya.

Kata Ikin, dengan adanya bangunan baru atau bangunan liar di areal terminal dan pasar Pamanukan, perlu di ditertibkan dengan planning yang pasti dan terarah sehingga tidak mengganggu perputaran ekonomi para pedagang.

Lanjutnya, penertiban atau pembongkaran bangunan liar (kafe) itu perlu, karena di luar tata rencana awal, dan bagusnya di buatkan taman dan sarana umum lainnya yang lebih bermanfaat seperti masjid atau mushola karena di lokasi itu tidak ada sarana ibadah, dari pada di jadikan Kafe. tutur Ikin.

Reporter. lily_MSR

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers