Sidang Perceraian di Cirebon Diwarnai Intimidasi Terhadap Saksi



Reporterjabar.com - Cirebon, Sidang lanjutan kasus penceraian antara IE dan FS di Pengadilan Agama Sumber Kabupaten Cirebon, diduga diwarnai dengan aksi intimidasi terhadap saksi dari pihak penggugat. Sementara salah satu saksi IE sang pengali makam Warsan mengakui Wwali nikah FS telah meninggal dunia pada tahun 1995 lalu.

Seharusnya, Warsan menjadi saksi di sidang lanjutan. Namun, Warsan terpaksa tidak dapat menghadiri sidang sebagai saksi, lantaran mendapat tekanan dari pihak penggugat dan keluarganya di Cilacap Jawa Tengah, untuk tidak datang sebagai saksi.

Pengakuan tersebut ditulis tangan yang ditandatangani dirinya pada tanggal 15 Desember 2020 serta kepala desa dan di cap desa diatas materai. Surat yang ditujukan kepada hakim sebagai bukti.

Kuasa hukum IE, Razman Arif Nasution menjelaskan, surat pernyataan yang dibuat oleh Warsan yang ditanda tangani oleh kepala desa, diberikan kepada hakim saat berjalannya sidang sebagai bukti tambah.

"Harusnya Warsan hadir ke Pengadilan Agama Sumber sebagai saksi, karena mendapat tekanan dari penggugat, dia tidak jadi datang, tapi membuat surat pernyataan penyebab Warsan tidak bisa hadir, serta keterangannya sebagai saksi juga ditulisnya," katanya, Rabu, 16/12/2020.

Razman melanjutkan, di persidangan pihaknya juga menghadirkan saksi ahli dari Ketua MUI Kecamatan Kedawung dan Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, di hadapan hakim kedua saksi ahli tersebut mengatakan pernikahan tidak sah karena wali nikah FS yaitu bapak kandungnya Samsuri telah meninggal dunia tahun 1995, sementara di buku nikah tercatat Samsuri menjadi wali nikah pada tahun 2003.

"Keterangan kedua saksi ahli pun sudah jelas, pernikahan itu tidak sah, dan hakim pun bingung orangnya sudah meninggal kok bisa jadi wali nikah, keterangan itu diperkuat oleh pernyataan penggali makam Warsan," imbuhnya.

Menurut Razman, FS telah melakukan pelanggaran hukum dengan mencantumkan orang yang sudah meninggal sebagai wali nikahnya di dokumen negara yakni buku nikah. 

"Kami akan menempuh jalur hukum dan melaporkan penggugat atas dugaan pemalsuan dokumen negara," pungkasnya.

Share on Google Plus

0 Comments:

Posting Komentar