Ketua Komcab Gojukai Subang Kecam Intervensi PB Dalam Pelaksanaan Musda Jawa Barat

Reporterjabar.com - Ketua Komisariat Cabang Subang Gojukai Karate-Do Indonesia, Bezie Galih Manggala, mengecam intervensi yang dilakukan oleh Pengurus Besar Gojukai Indonesia, terkait dengan pelaksanaan Musyawarah Daerah Gojukai Jawa Barat, yang diselenggarakan di Bandung, Sabtu, 28 November 2020 lalu.
 
Bezie menyebutkan bahwa PB Gojukai Indonesia telah mencederai Demokrasi dan Mengkhianati Proses Pembinaan yang seharusnya menjadi asas-asas yang dijadikan rujukan dalam penyelenggaraan kegiatan Pembinaan Karateka di Negara Republik Indonesia. Kecaman tersebut dilayangkan oleh Bezie, setelah mendengar laporan dari Delegasi Gojukai Komcab Subang yang dikirim untuk mengikuti acara Musda tersebut, dan menggelar rapat Koordinasi Cabang Subang secara virtual pada hari Senin, 30 November 2020, tepat 2 hari setelah Musda Jawa Barat digelar.
 
"Kami mendengar laporan bahwa PB mengintervensi terlalu jauh proses Penyelenggaraan Organisasi Komisariat Daerah Jawa Barat. Laporan intervensi pertama kami dengar justru dari Ketua Demisioner Komisariat Daerah Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa PB berkali-kali menolak penyelenggaraan Musda tahun ini, dengan alasan Pandemi, padahal banyak sekali cara yang dapat dilakukan agar proses pembinaan dan amanat organisasi tetap dapat dijalankan, tanpa harus melanggar protokol kesehatan," tutur Bezie saat ditemui wartawan, di Saung Rancage Karatwan Galuh Pakuan Subang, Salasa (1/12/2020).
 
Selanjutnya tutur Bezie, menurut Ketua Demisioner Komda Jabar, PB baru mengeluarkan izin kepada Jawa Barat untuk menyelenggarakan Musda, setelah kami dari Cabang Subang melayangkan surat ke Komda, yang mempertanyakan kapan akan diadakan penyelenggaraan Musda, mengingat masa bakti Kepengurusan Komda Jawa Barat, seharusnya sudah berakhir sejak bulan Agustus tahun ini.
 
"Itupun penyelenggaraannya diiringi dengan berbagai intervensi yang kami rasa tidak perlu, Ketua Penyelenggara Musda ditentukan tanpa melibatkan cabang-cabang yang merupakan anggota dari Komisariat Daerah Jawa Barat. Peraturan Musda juga diterbitkan dan pengawas dari PB dihadirkan pada penyelenggaraan Musda, akan tetapi banyak sekali aturan Musda yang mereka terbitkan sendiri, justru tidak dipenuhi dalam penyelenggaraan Musda tersebut."
 
"Lebih jauh lagi," tutur Bezie, "Kami mengecam intervensi PB dan Dewan Guru Nasional, yang membuat surat Rekomendasi Penetapan Dewan Guru Jawa Barat, yang didalamnya ada kata-kata, 'Agar mematuhi ketetapan rekomendasi Dewan Guru Nasional tentang Susunan Dewan Guru Daerah', yang dinilai oleh sebagian Sabuk Hitam peserta Musyawarah Daerah Jawa Barat, sebagai bentuk intervensi yang mencederai hak-hak Demokrasi Cabang, sekaligus mengintimidasi siapa saja yang menentang adanya Rekomendasi tersebut."
 
"Dalam Negara Demokrasi ini, Komisariat Daerah, dalam pemahaman kami, adalah badan koordinator yang dibentuk oleh cabang-cabang, yang merupakan pembina sekaligus pelindung dari ranting-ranting, yang merupakan pusat inti pembinaan Karateka Gojukai Subang. Ketika Pembentukan Komda dan Dewan Guru Daerah diintervensi oleh PB dan Dewan Guru Nasional, ini jelas merupakan bentuk Kediktatoran yang tidak mengindahkan hak suara dan merendahkan kehormatan Musyawarah Daerah. Terlebih lagi, beberapa diantara Dewan Guru yang dicantumkan dalam Rekomendasi tersebut, merupakan Oknum Dewan Guru yang minim Pembinaan dan juga minim Prestasi, seperti komplain yang pernah kami sampaikan secara formal pada Pertemuan dengan Komisariat Daerah Jawa Barat, beberapa minggu sebelum Musda yang bermasalah tersebut digelar.

Buat apa ada Musda jika semuanya sudah ditentukan sebelum bahkan Musda dijalankan?" tegas Bezie dalam pernyataannya.
Share on Google Plus

6 Comments:

  1. Tulisannya Bagus.... Tajam dan Intelek....

    BalasHapus
  2. Dinamika Organisasi...
    Tebuka dan Demokratis

    Hal Seperti Ini Wajar, Nornal dan Sehat.

    Artinya Gojukai Banyak Kaum Cendikiawannya

    BalasHapus
  3. Bagus ini untuk bahan diskusi.

    BalasHapus
  4. Tulisannya representasi kualitas diri: "logis dan intelek".
    Sebuah kritikan yang menghujam menguak fakta membongkar kebobrokan yang ada, saat yang lain bungkam dan tak bersuara.

    BalasHapus
  5. Kebobrokan yang terstruktur akan membuahkan kebobrokan yang terstruktur pula

    PB harus membuka diri dan berbenah demi perbaikan.

    BalasHapus
  6. Konspirasi apik yang dipertontonkan di era keterbukaan.
    PB yang seharusnya mengayomi malah terjerembab ke dalam informasi sepihak dan mengantarkan pada subyektifitas.
    Kepongahan dan intimidasi menjadi senjata untuk menggiring opini.

    Bila ini dibiarkan maka akan terjadi irama pembusukan.

    BalasHapus