Pesan Damai Galuh Pakuan dalam Deklarasi Subang Cinta Damai

Reporterjabar.com – Rakeyan Nuswajati Galuh Pakuan, Bezie Galih Manggala, menerima mandat untuk mewakili Raja Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi Sanggabuana, memenuhi undangan Bupati Subang, H. Ruhimat, menghadiri Acara Deklarasi Menolak Anarkisme Subang Cinta Damai, di Aula Pemda Subang, Senin, 19 Oktober 2019, pukul 09.00 WIB.

Hadir dalam kesempatan tersebut, segenap jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA), Bupati Subang dan  Wakil Bupati Subang Jimat-Akur, Ketua DPRD H. Cecep Narca Sukanda, Kapolres Subang, AKBP Aries Kurniawan Widianto, Kajari Subang, KasdimDIM 0605 Subang yang diwakili, Danlanud yang diwakili, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Subang, dan para Tokoh Masyarakat dari Golongan Adat, Tokoh Agama, serta ketua-ketua Ormas dan OKP, yang ada di Kabupaten Subang.

Sebelum acara dimulai, Kang Bezie, sempat menemui Kabag Ops Polres Subang di lokasi acara, dan memberikan usulan kepada pihak Polres Subang selaku bagian dari penyelenggara acara. Usulan tersebut disampaikan oleh Kang Bezie karena melihat dalam rundown acara, tidak adanya ruang bagi para tamu undangan untuk menyuarakan sikapnya dalam acara deklarasi tersebut, dan hanya diwakili oleh pembacaan Deklarasi Menolak Anarkisme, yang menurut Kang Bezie, pada prinsipnya pasti akan disetujui oleh masyarakat luas, tapi tidak 100% mewakili aspirasi masyarakat sehingga perlu kiranya penyelenggara acara membuka ruang untuk mendengarkan aspirasi masyarakat dan tamu undangan terkait dengan deklarasi tersebut.

"Kami diminta untuk mewakili Raja Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan, dan pada dasarnya kami setuju dengan poin-poin deklarasi hari ini, namun, dalam kesempatan ini, kami juga ingin menyampaikan nasihat Adat untuk semua orang terkait dengan situasi yang tengah terjadi akhir-akhir ini." Usul Bezie seperti disampaikan kepada Kabag Ops Polres Subang AKP Rislam Harfian.

Usulan tersebut disambut dengan positif oleh pihak penyelenggara, dan dijelaskan bahwa untuk mematuhi protokol kesehatan, maka acara di ruang Aula tersebut tidak boleh melebihi batas waktu 1 jam untuk meminimalisir kemungkinan penularan penyakit di ruang tertutup, sehingga acara dipadatkan dengan konten sambutan dan pembacaan Deklarasi Damai. Adapun pendapat dan aspirasi Tamu undangan, akan direkam secara terpisah melalui media video dan nantinya akan dipublikasikan oleh pihak penyelenggara kegiatan.

Mengikuti mekanisme tersebut, Kang Bezie pun lalu menyampaikan isi Pesan Damai Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan sebagai bentuk Aspirasi dan Nasihat dari Masyarakat Adat terkait dengan situasi yang terjadi akhir-akhir ini.

Berikut teks dari Pesan Damai Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan yang ikhtisarnya disampaikan Kang Bezie di acara tersebut.

Pesan Perdamaian LAK Galuh Pakuan

"Sampurasun, saya Rakeyan Nuswajati Bezie Galih Manggala, Ratu Anom Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan.

Pada kesempatan kali ini saya hendak menyampaikan Nasihat Adat mewakili Golongan Masyarakat Adat, terkait dengan kegiatan Deklarasi Anti Anarkisme Subang Cinta Damai yang diselenggarakan oleh FORKOPIMDA Kabupaten Subang.

Berbicara tentang Adat, Perdamaian adalah salah satu adat istiadat yang sangat mengakar ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Saking mengakarnya, sampai-sampai kata perdamaian dicantumkan pada Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa "Perdamaian Abadi" adalah tujuan dari didirikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, maka kami, Lembaga Adat Karaton Galuh Pakuan, sebagai bagian dari Masyarakat Adat, sepakat dengan poin-poin Deklarasi Damai, dan tidak setuju dengan tindakan-tindakan Anarkis yang dilakukan oleh siapapun, baik pada saat menyampaikan pendapat, berunjuk rasa, maupun pada kegiatan-kegiatan lainnya.

Namun demikian, demi untuk menciptakan perdamaian yang dimaksud, kami juga hendak menasihati Pemerintah dan Pihak Kepolisian, sebagai pengayom segenap Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, untuk senantiasa menunjukkan objektifitas dalam upaya penegakan Hukum di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hindari subjektifitas dalam menangani para aktifis, dan perlakukan siapapun yang melakukan pelanggaran hukum dengan prinsip menegakan keadilan dan kesamaan perlakuan terhadap warga negara di mata hukum.

Kami juga menyampaikan Nasihat Adat, untuk tidak mempertontonkan arogansi dan senantiasa bersikap bijak di hadapan masyarakat, terutama dalam proses menjalankan pemerintahan dan upaya penegakan Hukum. Jangan sampai masyarakat di daerah diminta untuk mendeklarasikan perdamaian, sementara di pusat, oknum-oknum tertentu malah melakukan tindakan-tindakan yang membuat Masyarakat tidak nyaman.

Demikian Pesan Perdamaian Karatwan Galuh Pakuan ini kami sampaikan, atas perhatian dan upayanya menegakkan perdamaian, kami ucapkan terimakasih.

Cag, Rampes!."

Sementara itu RM Evi Silviadi menyampaikan bahwa Damai berarti bersepakatnya dua pihak atau lebih yang berbeda pendapat. “Jika hanya ada satu pihak yang boleh berpendapat, itu namanya bukan damai, tapi takluk," tuturnya.

"Kami masyarakat Adat pasti setuju Damai karena kami memang tidak pernah punya musuh, namun kami juga menitipkan nasihat untuk pemerintah dan lembaga kepolisian, untuk mau mendengarkan pendapat pihak yang berbeda, dan tidak bertindak subjektif kepada golongan aktifis." lanjutnya.

"Adalah sebuah tindakan yang arogan dan subjektif, ketika dua orang jenderal polisi ditangkap, tetapi tidak diborgol, sementara aktifis-aktifis ditangkap dan diborgol, seolah-olah POLRI ingin mempertontonkan kekuasaan, dan ini bisa membuat masyarakat merasa tidak nyaman,” pungkasnya.

Share on Google Plus

0 Comments:

Posting Komentar