Begini Cara Penyiaran Berdayakan Masyarakat



Reporterjabar.com - Keberadaan media penyiaran seyogyanya menjadikan menjadi berdaya dengan sumber daya yang dimilikinya. Dengan memberdayakan masyarakat berbasis sumber daya budaya lokal. “Masyarakat harus berdaya dengan penyiarannya. Penyiaran di daerah harus berdaya sumber dayanya sendiri. Tidak perlu terlalu terpengaruh oleh penyiaran di (pusat Jakarta). Kita bisa memberdayakan dengan kearifan lokal setempat dengan gaya lembaga penyiaran masing-masing,” ujar Komisioner Bidang Isi Siaran KPID Jawa Barat, Aep Wahyudin dalam talkshow di Radio Aditya Subang, Minggu malam (20/9/2020).
Talkshow yang dilaksanakan secara live tersebut mengambil tema “Siaran Budaya Lokal Untuk Membangun Nasionalisme dan Memberdayakan Masyarakat”. Dengan dipandu oleh Achong.
Oleh karena itu kata dia masyarakat perlu diberikan literasi penyiaran yang sehat. Literasi yang dimaksud ialah memberikan penyadaran kepada masyarakat supaya bisa memilah dan memilih materi siaran yang baik, sehat dan mencerdaskan.
Tujuan talk show itu untuk memberikan literasi tentang penyiaran yang sehat dan mencerdaskan masyarakat dengan menghidupkan kembali kearifan lokal di daerah setempat dengan gaya penyiaran masing-masing. “Budaya yang menjadi kearifan lokal tidak tergerus oleh budaya yang tidak sesuai,” katanya.
Berdasarkan data KPI lembaga penyiaran di Jawa Barat adalah yang terbanyak dengan jumlah 423 lembaga penyiaran radio dan TV yang tersebar di 27 kabupaten dan kota. “Di DKI Jakarta saja ‘hanya’ hanya 17 lembaga penyiaran. Ini menjadi kekayaan daerah (Jabar) dalam memberdayakan masyarakat dengan budaya lokal melalui penyiaran,” imbuhnya.
Hal ini diamini oleh Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Subang, Beni Rudiono yang menjadi narasumber. Kata beni penyiaran harus bisa mengangkat potensi daerah dan memberikan kebanggaan pada kearifan lokal daerah. “Dengan penyiaran harus mampu mengangkat (nama besar) daerah dan memberikan kebanggaan warganya menjadi bagian dari daerah dengan kearifan lokalnya,” kata Beni.
Kemudian dia memberikan contoh warga Subang yang sebelumnya mendapat citra negatif sehingga warganya tidak bangga menjadi warga Subang. “Sering saya mendengar orang lebih bangga mengaku sebagai warga Purwakarta. Tapi saat di tanya Purwakartanya di mana dia menjawab: Ciasem (salah satu kecamatan di Subang),” ujarnya berseloroh.
Oleh karena itu kata Beni perlu dilakukan upaya membangun citra daerah dengan mengangkat keunggulan daerah masing-masing. Karena dia yakin setiap daerah memiliki keungulan yang bisa diangkat melalui kearifan lokal dengan gaya masing-masing lembaga penyiaran.
Usulan BDR melalui Lembaga Penyiaran
Pada kesempatan tersebut salah satu pendengar menyampaikan usulan supaya kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) bisa dilakukan melalui lembaga penyiaran. Tujuannya kata pendengar tersebut untuk mengatasi borosnya biaya karena harus membayar biaya kuota internet. “Sedangkan kami tidak semuanya mampu membeli kuota dan memiliki hape android juga tidak semua wilayah tercover jaringan seluler,” tulis pendengar yang disampaikan melalui pesan singkat.
Usulan ini kemudian ditanggapi Aep yang menyatakan bahwa usulan itu sangat baik karena kanal atau frekwensi yang digunakan lembaga penyiaran sadalah kanal publik yang bisa digunakan untuk kepentingan pendidikan. Untuk itu pihaknya segera menyampaikannya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat khususnya bagi SMA/SMK. Hal yang sama ditanggapi Beni ini menjadi salah satu bidang yang ditangani Komisi IV DPRD Kabupaten Subang.

Posting Komentar

0 Komentar