Biarpun Fakta Tetapi Dilarang Dibagikan !

Reporterjabar.com - SUBANG, Hari ini Tribunnews membuat berita tentang ada seorang perempuan yang telanjang tanpa sehelai benangpun di Surabaya.


Ternyata sumber berita itu dari Twitter seseorang yang berdurasi 44 detik. Berita Tribunnews menyajikan tangkapan layar dengan sensor.

Namun pembaca diberikan akses lengkap Twitter yang menyebarkan konten pornografi itu. Akhirnya siapa saja bisa mengakses akun yang memang tidak dikunci tersebut.
Tribun memang tidak menyajikan gambar porno karena bagian dada dan alat vital lainnya ditutup. Namun apakah perlu tangkapan layar dan akun Twitter disajikan ?
Saat awal kuliah pada tahun 1980 atau 40 tahun silam selalu dikatakan fakta adalah suci. Bahkan dikatakan jangan menodai fakta dengan menyaring informasi.

Sekarang tidak semua fakta bisa disajikan. Ada hukum yang mengatur tentang penyebaran konten atau distribusi informasi, apalagi terkait pornografi dan atau SARA.

Akun Twitter yang menyebarkan perempuan tanpa sehelai benang, memenuhi unsur Pasal 4 ayat (1) UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman 6 bulan sampai 12 tahun.

Selain itu mendistribusikan konten kesusilaan juga dilarang Pasal 27 ayat (1) UU No. 19 tahun 2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman enam tahun penjara.

Masih ingat kasus di Tasikmalaya, ada seseorang yang bersumpah dengan Al Qur'an. Namun bukan di atas kepala tetapi diinjak. Ini memenuhi unsur penodaan agama.


Nah, polisi dalam berita di atas tidak sekedar menyidik orang yang injak Al Qur'an saat bersumpah. Penyebar konten itu pada media sosial juga disidik, bahkan dengan ancaman lebih tinggi yaitu enam tahun penjara.

Platform media terus berkembang, hukum mengikuti dan mengatur hal itu. Kita tidak boleh lagi gunakan teori atau pendapat puluhan tahun silam karena sudah lahir hukum baru.

Sekarang kita menunggu polisi di Surabaya atau Jawa Timur untuk menyelidiki atau menyidik aksi dan konten pornografi karena itu delik umum.

Posting Komentar

0 Komentar