Ocean’s Eleven dan Kartu Prakerja

Ilustrasi Wiki
Oleh Arip Musthopa

Danny Ocean (George Clooney), hanya beberapa hari setelah bebas dari penjara, langsung merekrut pencuri-pencuri spesialis untuk membobol tiga casino terkenal di Las Vegas: Bellagio, The Mirage, dan MGM Grand. Perampokan besar-besaran dengan target lebih dari USD 163 juta ini diotaki oleh Rusty, yang awalnya menolak ide Ocean. Dengan sangat hati-hati, teliti, dan terperinci, Rusty menyusun skenario dan membahasnya dengan 10 anggota tim lainnya. Maklum, brankas yang menyimpan uang tiga Casino tersebut dijaga ketat, menggunakan teknologi canggih, dan berada di bagian bawah casino Belagio.
Singkat cerita, perampokan yang rumit itu berhasil, tanpa kekerasan dan tanpa korban. Penonton dibuat terkagum-kagum dan nyaris menganggap gerombolan perampok itu laksana pahlawan yang genius dan profesional. Meski mereka mencuri, perbuatan tercela, tapi karena melakukan hal yang mustahil, kekaguman menutupi stigma tercela tersebut. Apalagi uang yang dicuri adalah uang milik bos judi, sama tercelanya.
Itulah kisah film Ocean's Eleven yang dibuat tahun 2001 dan disutradarai oleh sutradara kawakan Steven Soderbergh. Karena sukses, film ini dilanjutkan oleh dua sekuelnya, Ocean's Twelve (2004) dan Ocean's Thirteen (2007).

Kartu Prakerja
Adalah Jumhur Hidayat, mantan Kepala BNP2TKI yang sejak awal menyatakan bahwa perampokan uang negara sedang berlangsung seiring pelaksanaan program Kartu Prakerja. Saya sendiri hanya menyebutnya "mekanisme pemborosan yang menciptakan "ruang gelap" yang rawan dikorupsi."

Dengan mengacu pada terminologi Jumhur, maka jadi relevan untuk membandingkan kisah Ocean's Eleven dan Kartu Prakerja. Karena ada tema yang sama: perampokan.
Masalahnya ada perbedaan laksana langit dan bumi membandingkan keduanya. Perampokan dalam kisah Ocean's  Eleven dilakukan dalam sunyi, melibatkan segelintir orang, tanpa otoritas, penuh _skills_, dan yang menjadi target adalah uang pribadi, kepunyaan pemilik Casino Belagio, Terry Benedict (Andy Garcia). Sedangkan dalam kasus Kartu Prakerja, prosesnya begitu terbuka, transparan dan mudah dipahami oleh publik. Melibatkan banyak orang, pejabat Negara malah. Ada payung otoritas. Tidak melibatkan _skills_ atau teknologi tinggi untuk melakukannya. Dan dilakukan bukan terhadap uang pribadi, melainkan uang negara.

Ocean's Eleven mengajarkan secanggih dan seketat apapun brankas itu dijaga, selalu ada titik lemah yang bisa ditembus. Tanpa pemilik tahu sedang diperdaya. Sementara Kartu Prakerja mengajarkan, tak perlu kecanggihan dan menembus penjagaan yang ketat, asal ada akses kekuasaan, uang dapat ditarik mengalir keluar dengan lancar, tanpa ada petugas keamanan atau aparat penegak hukum yang -mau- menghalangi.

Inilah legalized corruption. Korupsi yang dilegalkan. Karena ada Perpres yang menaungi. Ada otoritas Kepala Negara yang mengatur mekanismenya, tanpa peduli ada mekanisme lain yang lebih efisien. Bayangkan, sebuah program pelatihan daring yang bisa dikerjakan hanya dengan anggaran Rp. 300 milyar tapi dilaksanakan dengan suatu mekanisme yang bisa menghabiskan dana Rp. 5,6 triliun. Platform digital, nama yang keren dan berbau revolusi 4.0 menjadi biang keroknya. Uang Negara masuk ke mereka, dipecahnya per Rp. 1 juta menjadi -seolah- milik peserta Kartu Prakerja karena tercatat dalam Saldo akun peserta. Uang tersebut kemudian digunakan membeli video kepada platform digital. Uang tak kemana-mana, berputar di sistem mereka.

Tak ada transparansi berapa lembaga pelatihan atau content provider dibayar. Menteri keuangan bilang, tak ada pembayaran ke platform digital, yang ada ke content provider. Anehnya, kalau tidak ada dana yang ditransfer ke platform digital, kok bisa ada dana di akun peserta Kartu Prakerja di platform digital itu?

Platform digital sebenarnya bisa tidak dipakai, karena sudah ada www.prakerja.go.id. Tinggal dibuat aplikasinya yg kompatibel di AppStore dan PlayStore maka situs resmi tersebut sama fungsinya dengan 8 platform digital lainnya.

Entah siapa yang menjadi Rusty dalam mekanisme "rumit" dan tidak transparan dalam hal penggunaan dananya. Tuduhan mengarah pada CEO Ruangguru, karena kedudukannya sebagai Staf Khusus Presiden saat Perpres 36/2020 diterbitkan. Apalagi data pelaksanaan Kartu Prakerja membuktikan bahwa Skills Academy (member of  Ruangguru) yang paling siap dan paling diuntungkan oleh program ini.

Belakangan kita tahu bahwa Ocean, termotivasi melakukan perampokan karena mantan isterinya, cinta sejatinya, kini menjadi pacar Terry Benedict. Melalui perampokan, Ocean ingin buktikan pada Tess (Julia Roberts) bahwa dia lebih hebat dari Terry. Buktinya dia bisa ambil harta Terry tanpa gaduh, tanpa korban. Halus dan sunyi. Dia ingin rebut Tess dari Terry, dan upayanya dimulai dengan mengambil hal yang sangat berharga dimata Terry: uang.

Namun kita belum tahu apa motivasi dibalik "kisah" Kartu Prakerja. Mungkin seiring berjalannya waktu kita akan tahu juga. Tapi saat itu tiba, mungkin uang Negara sudah tidak bisa diselamatkan lagi. #
Share on Google Plus

0 Comments:

Posting Komentar