AKB atau AKBB? Hikmah Covid-19



Tulisan ini sebagai penjelasan dari status FB penulis mengenai istilah AKB atau AKBB berkaitan dengan pasca pandemik Covid-19.

Menanggapi akan dilakukannya New Normal atau dalam istilah Provinsi Jawa Barat dengan sebutan  Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Tindakan ini sebagai upaya pencegahan meluasnya Covid-19.

Dalam kesempatan ini penulis ingin memberikan masukan terhadap dilaksanakannya AKB di provinsi Jawa Barat atau New Normal di Indonesia.
Dari beberapa literatur ada poin penting dari New Normal ini ialah membiasakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah berkegiatan, menjaga jarak aman untuk menghindari penularan atau meluasnya penyebaran virus, menjaga kebersihan pribadi, lingkungan dan membiasakan diri menggunakan masker sebagai upaya perlindungan dari penularan dan menularkan virus.
Penulis hanya ingin menanggapi penggunaan istilah AKB atau New Normal penting dibahas. Ada hal  yang menurut penulis penting ialah bahwa dalam melaksanakan AKB sebenarnya tidak ada yang baru mungkin hanya dua kebiasaan yang dianggap baru yaitu menjaga jarak dan menggunakan masker walaupun kebiasaan menggunakan masker sudah sering dilakukan oleh masyarakat perkotaan terutama yang memiliki tingkat polusi tinggi.

Khususnya penulis akan menanggapi kebiasaan menjaga jarak. Ketika kebiasaan menjaga jarak ini diberlakukan dalam kegiatan beribadah terutama untuk kegiatan beribadah mahdhoh seperti shalat berjamaah dengan keutamaan merapatkan dan meluruskan barisan. Keutamaan ini sangat ditekankan dalam pelaksanaannya.  Oleh karena itu perlu ada ketentuan khusus bahwa ketentuan menjaga jarak hanya diberlakukan saat ada wabah. Bukan diberlakukan pada "kebiasaan baru". Maka penulis sangat setuju dengan pendapat ulama ketika wawancara televisi berita yang menyebutkan harus ada transparansi ilmuwan dalam menetapkan status pendemik. Lagipula kebiasaan mencuci tangan dan menjaga pola hidup sehat bukanlah hal baru tetapi kebiasaan yang memang telah diberlakukan dan telah dibiasakan oleh orang-orang tua kita dahulu yang diajarkan kepada kita hanya saja kebiasaan tersebut terlupakan atau lebih tepatnya sering diabaikan. Bahkan Islam menjadikan bagian dari akhlak.

Begitu pula dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan sehat,  bukankah Indonesia mengenal dengan istilah 4 sehat 5 sempurna?
Maka dari itu penulis lebih setuju untuk menggunakan istilah AKBB atau Adaptasi Kebiasaan Baik dan Benar. Karena setiap kebiasaan itu harus melahirkan kebaikan yang berdasarkan pada kebenaran secara adat ataupun agama.

Maka dalam kesempatan ini penulis ingin memberikan masukan bahwa dalam penerapan adaptasi kebiasaan baik dan benar harus lebih diarahkan memperkuat imunitas warga. Dengan cara menyediakan makanan yang sehat dan menyehatkan dan menurunkan potensi pelemahan fisik warga.

Pemerintah wajib menerapkan kebijakan ketersediaan bahan makanan sehat dengan harga terjangkau oleh seluruh kalangan.

Kemudian mengatur dengan ketat potensi-potensi tingkat polusi seperti keberadaan industri yang berpotensi mencemari lingkungan baik udara, tanah maupun air. Sebab menurut beberapa literatur yang penulis temui bahwa keberadaan virus apapun itu namanya hanya bisa dilawan dengan daya tahan tubuh prima alias imunitas. Virus itu akan tetap berpotensi muncul saat imunitas menurun.

Maka dengan adanya pandemik korona yang melanda Indonesia bisa menjadi hikmah bahwa kita harus kembali pada kebaikan yang berlandaskan kebenaran. Bukankah cara cuci tangan standar WHO telah diajarkan Rasulullah Saw?

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. (HR. Muslim)
Wallahu'alam.
CMIIW

Teddy Widara, Jurnalis dan peminat masalah sosial tinggal di Subang

Posting Komentar

0 Komentar