dr. Sulianti Saroso, Sosok Pejuang dan Pelopor Keluarga Berencana

dr. Sulianti Saroso tahun 1974. Sumber WAG Jurnalisme
Nama Sulianti Saroso menjadi sangat akrab di telinga. Nama tersebut akrab dengan pusat pelayanan masyarakat bagi penderita Covid-19. Namun siapa dr. Sulianti Saroso tersebut?
Disarikan dari hitoria.id, dr. Sulianti Saroso dilahirkan di Karangasem, Bali 10 Mei 1917 dengan nama lengkap Julie Sulianti. Berhasil menamatkan studi di Gymnasium Bandung kemudian melanjutkan jejak sang ayah, dr Sulaiman, dengan mendaftar ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Batavia. Lulus pada 1942, kemudian Sul – sapaan akrabnya – bekerja di bagian penyakit dalam Centrale Burgelijke Ziekenhuis – kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) – lalu bekerja dibidang penyakit anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.
Dalam perjuangan Sul mengorganisasi dapur umum untuk memenuhi kebutuhan gerilyawan yang masuk kota. Dia terjun di front Tambun (Jawa Barat), Gresik, Demak, dan Yogyakarta. Karena keberaniannya, ia sempat ditahan oleh pemerintah Kolonial Belanda selama dua bulan di Yogyakarta.
Sul aktivis perempuan sadar politik pernah duduk di Badan Konggres Pemuda Republik Indonesia sebagai wakil Pemuda Putri Indonesia (PPI). Bersama teman-temannya, dia membentuk Laskar Wanita yang diberi nama WAPP (Wanita Pembantu Perjuangan).
Selepas revolusi, Sul fokus pada dunia kedokteran. Dia bekeja di Kementerian Kesehatan dengan prestasi mengesankan. Kemudian mendapat beasiswa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mempelajari Sistem Kesehatan Ibu dan Anak di negara-negara Eropa. Sekembalinya ke tanah air pada 1952, Sul membawa banyak ide mengenai kesehatan ibu dan anak, khususnya pengendalian angka kelahiran melalui pendidikan seks dan gerakan keluarga berencana.
Sul bergerak melalui RRI Yogyakarta menyampaikan pidato untuk menggalang dukungan pemerintah. Siaran membuat Wakil Presiden Muhammad Hatta marah. Walaupun gagasan-gagasan ekonominya sangat maju, Bung Hatta menganggap diskusi mengenai hal itu kurang tepat dan kurang wajar untuk digunakan dalam komunikasi massa dan merupakan urusan kehidupan keluarga masyarakat Indonesia.
dr. Sul prihatin saat itu Indonesia kekurangan tenaga bidan, sehingga masyarakat menggunakan tenaga dukun. Angka kematian bayi tinggi. Sedangkan jumlah penduduk Indonesia meningkat. "Sebaiknya para ibu harus berani dan mau melakukan pembatasan kelahiran," ujar Sulianti, sebagaimana dikutip Kedaulatan Rakyat.
Namun pandangan dr. Sul medapat reaksi penentangan yang dianggap dianggap melanggar Hak Azasi Manusia (HAM), mengakibatkan pembunuhan bibit-bibit bayi, bisa memperluas pelacuran dan merusak moral masyarakat.
Pada 1956 dr. Sul menggerakkan usaha kesehatan masyarakat dengan memimpin Unit Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (KMD/PKR). Dia membuat "Proyek Bekasi" di Lemah Abang suatu proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, yang memadukan pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.
Saat menjabat Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) pada 1967, Sul meyakinkan komisi internasional WHO bidang pemberantasan penyakit cacar bahwa Indonesia terbebas dari penyakit menular itu, yang kala itu melanda dunia.
Usaha dan perjuangan Sul kemudian mendapat tempat di masa Orde Baru melalui Program Keluarga Berencana.
Dedikasi dan konsistensi Sul dibidang kedokteran membuat namanya harum hingga ke luar Indonesia. Oleh WHO dia diangkat menjadi anggota badan eksekutif dan bahkan pernah menjadi ketua Health Assembly atau Majelis Kesehatan, yang berhak menetapkan dirjen WHO.
dr. Sul adalah dokter luar biasa. Kecemerlangannya berhasil mengangkat dunia kedokteran Indonesia ke tingkat dunia. dr. Sul meninggal pada 29 April 1991. Namanya diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit: Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso.
Share on Google Plus

0 Comments:

Posting Komentar