Fenomena "Kerajaan" sebagai Bentuk Kerinduan pada Kejayaan Bangsa

SUBANG - Fenomena munculnya "kerajaan" di Indonesia pada dasarnya adalah wujud kerinduan pada masa kejayaan yang pernah ada di Indonesia. Menurut Raja Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan, Rahiyang Mandalajati Evi Silviadi kejayaan yang berdasarkan agama seperti kejayaan Islam pada masa Rasulullah Saw sampai masa khilafah dan kejayaan berdasarkan pada leluhur.
"Kaduanya bagus bila untuk membangun eksistensi budaya atau eksistensi agama itu bagus. Tanpa tanpa disertai merubah falsafah negara atau disertai dengan indikasi tindak pidana," jelasnya kepada wartawan, Senin (20/1/2020).
Untuk membangun tersebut kata Evi harus jelas dasarnya yang menjadi dibuatnya mewujudkan kerinduan itu. "Kalau tidak maka akan disebut sebagai 'Raja Palsu' atau 'Nabi Palsu'. Itu kalau tidak jelas atau tidak kuatD dasarnya," imbuhnya.
Lalu pemerintah kata Evi perlu proporsional dalam menyikapi fenomena ini. Selama mereka bertindak membangun tatanan yang lebih baik perlu didukung dan diarahkan. "Apabila sudah menyimpang pada upaya merubah falsafah atau tindak kriminal maka itu baru ditindak," katanya.
Mengenai upaya pengumpulan uang asalkan jelas itu biasa dalam organisasi. "Asalkan selama tidak mengiming-imingi yang tidak jelas. Itu penipuan," imbuhnya menegaskan.
Untuk membangun tatanan adat itu, lanjut Evi ada mekanismenya yang harus diikuti. Seperti terdaftar secara kenotariatan, terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM). "Mekanisme itu harus diikuti," tegasnya.

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers