Desa Digital Galuh Pakuan Diapresiasi Akademisi

SUBANG - Wakil Dekan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain (FPSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Dr. Tri Karyono M.Sn, tertarik dengan eksistensi Raja Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan Rahyang Mandalajati Evi Silviadi yang menginisiasi "Teknologi Tradisi".
Karena menurut Tri, Raja LAK Galuh Pakuan memiliki pemikiran yang sangat luar biasa ditengah-tengah era teknologi digital saat ini, masih mempertahankan tradisi kesundaan, agar tidak punah ditelan jaman. "Yang saya garis bawahi dari pernyataan Beliau yaitu, LAK Galuh Pakuan masih terus mempertahankan tradisi kesundaan, meski saat ini teknologi digital sudah merambah ke semuanlapisan masyarakat kita, yang tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan," ujar Tri kepada wartawan di Subang, Jum'at (13/12/2019).
Dikatakannya "Teknologi Tradisi" yang saat ini diterapkan Raja LAK Galuh Pakuan dimasyarakatnya, dalam mengembangkan tradisi. Artinya kehadiran teknologi itu bukan sesuatu yang tabu di kalangan masyarakat LAK Galuh Pakuan saat ini tetapi teknologi itu harus menjadi tradisi. Karena lambat laut, teknologi tersebut akan menjadi tradisi dikalangan masyarakat dunia. "Bagi saya sesuatu yang  tidak absurd, sesuatu yang tidak diawang-awang, dan saya berani memberikan sebuah analogi, dulu yang namanya rambu lalu-lintas atau trafficklight yang ditandai dengan kuning, hijau dan merah sekarang menjadi sebuah rambu lalu-lintas yang tradisional, karena sudah tergantikan dengan rambu lalu-lintas digital, dan itu nanti akan menjadi tulisan saya di UPI," terangnya.
Jika "Teknologi Tradisi" menjadi sebuah jargon perjuangan Raja LAK Galuh Pakuan dalam mempertahankan dan melestarikan tradisi kesundaan lanjut Tri, bukan sebuah isapan jempol.
Diketahui bersama bahwa sebelumnya Raja LAK Galuh Pakuan sudah membangun sejumlah Desa Digital dan menjadi percontohan di Jawa Barat, bahkan nasional dengan menyediakan jaringan internet ke desa-desa yang tidak terjangkau sinyal internet. Seorang Raja LAK Galuh Pakuan mampu membangun jaringan internet tersebut dengan memasang fibre optic (FO).
"Perjuangan Raja LAK Galuh Pakuan ini, tentunya perlu mendapatkan apresiasi dari siapapun, termasuk dari UPI Bandung atas ekspektasi yang sudah dilakukan Raja LAK Galuh Pakuan itu," pungkas Tri.

Posting Komentar

0 Komentar