Berbagi Beban Gaya LAK Galuh Pakuan Membangun Peradaban Manusia

SUBANG - Manusia yang dibangun oleh Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan, ialah manusia yang memiliki jiwa yang tangguh, raga yang kuat dan rasa asih. "Ketika jiwa sudah tangguh, raga sudah kuat dan rasa asih barulah diberi tugas, pertama; Ngamulyakeun nu hina, dua; nguatkeun nu lemah, tiga; minterkeun nu bodo dan keempat; ngabeungharkeun nu miskin. Pembinaan Itu semua dari jiwa sampai fisik tidak lepas dari peran pendidikan," ujarnya dalam sambutan selaku pemrakarsa Seminar dan Workshop "Penguatan Karakter Mellaui Pendidikan Seni" di Aula Pemda Kabupaten Subang, Sabtu (7/12/2019).
Sunda adalah suatu yang dirasakan dalam kenyamanan dan ketertiban maka tatanan itu yang dibangun oleh Galuh Pakuan. "berangkat dari ketidaktahuan maka peran pendidikan harus ditangani oleh pihak-pihak yang berkompeten," imbuhnya.
Untuk itu kemudian melakukan silaturahim dengan lembaga pendidikan untuk melakukan penguatan pendidikan. Diantaranya dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Dalam workshop tersebut menghadirkan pemateri Profesor Tati Narawati Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Joko Aswoyo, S.Sen, M.Hum, Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Solo Surakarta dan Dr. Tri Karyono, M.Sn, Dosen UPI
Lalu untuk membangun raga yang kuat dimasyarakat kata dia bersama istrinya sering keliling ke kampung-kampung. Lalu ditanya potensi yang dimiliki. "Kalau melihat pemuda-pemuda kumpul-kumpul diam pasti duduk. Tapi kalau dikasih bola pasti langsung berolahraga," tuturnya bertamsil.
Selanjutnya kita berfikir tidak untuk mengambil keuntungan. "Tetapi kita berfikir untuk berbagi beban," Masing-masing pihak memberikan perannya. Ada yang memberikan kayu, ada makanan, tenaga. "Bahkan apabila tidak bisa apa-apa. Berikan kami do'a karena sekecil apapun peran itu bisa membantu untuk mewujudkan cita-cita," katanya.
Olahraga ini diupayakan untuk memasyarakat artinya olahraga menjadi milik masyarakat. "Alhamdulillah olahraga di Subang dibawah binaan Galuh Pakuan banyak meraih prestasi. Ini kami rasakan hasil dari berbagi beban.
Kemudian kata Evi strategi berbagi beban ini dilanjutkan kebidang seni yang sebelumnya status sebagai seniman kurang membanggakan. Kemudian berupaya meobah mind-set bahwa seni menjadi membanggakan. Lalu berusaha berbagi beban dengan berbagai pihak dengan memberikan penghargaan kepada insan seni. "Sekarang seniman menjadi membanggakan," katanya. (Ist)

Posting Komentar

0 Komentar