Begini Cara Desa Digital Pertemukan Petani dengan Pasar

SUBANG – Untuk mempertemukan antara petani dengan pasar, Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan membentuk Badan Usaha Desa Bersama (Bumdesma) Bumdesma "Prakarsa Galuh" dengan menyusun aplikasi digital. Dikatakan Raja LAK Galuh Pakuan, Rahiyang Mandalajati Evi Silviadi melalui Bumdesma menyatukan badan usaha desa untuk membuat pasar komoditas lewat pasar digital denga unit usaha Trading House yang dipelopori Prakarsa Galuh. "Gunanya untuk mempertemukan antara pembeli atau pasar dengan petani melalui aplikasi bernama 'Pasar Raya Komodity' yang merupakan trading house komoditi  sesuai potensi desa masing-masing," jelasnya kepada wartawan, Kamis (24/10/2019).
Lalu kata Evi masing-masing desa didata potensinya misalnya buah-buahan, ayam, perikanan. Kemudian potensi desa ini dimasukan ke dalam aplikasi. Lalu dicarikan penyaluran pasarnya melalui aplikasi. Misalnya akan ada panen cabe kemudian diumumkan dengan menyebutkan spesifikasinya. Sebaliknya pasar juga menyebutkan kebutuhannya. Misalkan DKI Jakarta membutuhkan cabe sekian ton per hari dengan spesifikasi seperti ini berikut harganya. "Maka informasi itu sudah ada di dalam aplikasi. Jadi antara pertani dan pasar dipertemukan dalam satu aplikasi," bebernya.
Kata Evi itulah gunanya digitaliasasi dengan informasi langsung sehingga petani dan pasar bisa saling bersepakat dan bisa saling bertemu langsung.
Lalu hasil pertemuan antara petani dan pasar bisa diambil komisi untuk kas pembangunan desa. "Karena aplikasi ini 'kan milik desa maka komisi tersebut digunakan untuk kas pembangunan desa,"
Mengenai prospeknya kata Evi cukup menjanjikan. "Sebab kami mendapatkan informasi bahwa untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta saja ada potensi senilai 1,3 trilyun pertahun. Untuk beras saja DKI butuh 3000 ton per hari. Ini potensi buat Subang," tuturnya.
Maka melalui aplikasi ini bisa ada kesepakatan yang terbuka antara Pasar dan Petani. Sehingga petani memiliki daya tawar yang sama dengan pasar.
Selama 10 bulan ini diharapkan bisa ramai oleh pertemuan antara petani dan pasar kebutuhan. Oleh karena itu pihak Prakarsa Galuh terus melakukan survai. "Baik itu survai kebutuhan, potensi komoditas maupun wilayah yang layak untuk komoditas," kata Evi.
Langkah awal antara Prakarsa Galuh dengan Pemerintah Subang mempersiapkan gudang dengan kapasitas 300 ribu ton dalam rangka untuk stabilitas beras. "(pembangunan gudang) itu sedang dalam pembicaraan antara Bupati Subang dengan Bumades Prakarsa Galuh," imbuhnya.
Selanjutnya kata Evi ada persoalan klasik, yaitu masalah permodalan. "Di mana petani membutuhkan akses (permodalan) supaya sumber permodalan petani tidak bersumber dari rentenir atau pengijon. Makanya kita kerjasama dengan koperasi dan avalis," kakanya.
Permodalan harus dipersiapkan dipasar. Diharapkan bekerja sama dengan pemerintah sebagai pendamping. "Kita bisa dipercaya untuk itu," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar