Wartawan Bisa Menjadi Tirani

Artikel ini merupakan tulisan sekira 11 tahun lalu yang diposting Farid Gaban di millis Jurnalisme yang berjudul/subject Wartawan Busa Menjadi Tirani (1).
Tujuannya untuk sebagai bahan referensi seorang wartawan dalam melaksanakan tugas mulianya. 

Subject:
[jurnalisme] Wartawan Bisa Menjadi Tiran (1)
Date:
Thu, 20 Nov 2008 09:53:02 -0000
From:
Reply-To:
To:
Dear All,

Wartawan bisa menjadi tiran, seperti dilukiskan dalam novel "Hilangnya Kehormatan Katharina Blum" karya Heinrich Bõll, sastrawan Jerman pemenang Nobel.

Novel ini membahas tentang tulisan seorang wartawan yang menyebabkan hidup seorang perempuan, pembantu rumah tangga, berantakan. Perempuan itu membunuh sang wartawan.

Novel ini juga membicarakan "pembunuhan karakter" terhadap lawan politik atau oposisi, yang dilakukan negara dan dikobarkan oleh wartawan komprador.

Saya memakai ilustrasi "Katharina Blum" ini dalam tulisan opini di Majalah Tempo 3 Februari 2002, untuk membahas nasib Fathur Rahman Al-Ghozi, seorang tersangka teroris Indonesia yang ditangkap di Filipina.

Waktu itu Bom Bali belum meledak. Istilah Jemaah Islamiyah belum muncul di media, tapi awal perang melawan teror sedang gencar-gencarnya dilakukan George Bush. Belakangan Ghozi disebut merupakan bagian dari jaringan teror Jemaah Islamiyah yang berafiliasi pada Al Qaedah.

Waktu saya menulis ini, Bush baru siap-siap menyerbu Irak, untuk "memburu Al Qaedah". sebuah dalih yang kini kita semua menyadarinya sebagai dalih palsu, penuh kebohongan.

Siapa sebenarnya Al Ghozi tak pernah diketahui setelah muncul kabar dia ditembak mati ketika, katanya, mencoba melarikan diri dari penjara Filipina.

Tulisannya ada di bawah ini, yang saya ingat banyak teman-teman Tempo sendiri tidak menyetujuinya:

GHOZI, AL QAIDAH DAN MEGAWATI

HEINRICH Bõll, novelis Jerman pemenang Nobel, punya buku yang layak dikenang, berjudul Hilangnya Kehormatan Katharina Blum. Di situ dia melukiskan bagaimana hidup seseorang bisa hancur hanya karena
berkenalan dengan orang yang keliru.

Katharina perempuan baik-baik. Dunianya berantakan setelah suatu malam tidur dengan pria tak dikenal yang ditemuinya dalam sebuah pesta. Dia ditahan, diinterogasi, dan dihinakan. Dia dikejar-kejar wartawan "koran kuning" yang mengaduk-aduk hidup pribadinya—begitu memuakkan sehingga si wartawan akhirnya dia bunuh.

Kesalahan Katharina? Dia tidur dengan seorang teroris. Bõll tidak menyebutnya secara spesifik, tapi novelnya mengingatkan pada Baider Meinhof, kelompok teroris terkenal di Jerman pada 1970-an.

Hidup Anda pun bisa berantakan jika mengenal orang yang keliru sekarang ini, misalnya Usamah bin Ladin dan anak buahnya di Al-Qaidah. Bahkan jika Anda hanya bersekolah di sebuah universitas Islam Pakistan, negeri yang berbatasan dengan Afganistan, tempat Usamah dulu bermarkas, hidup Anda bisa terancam tujuh turunan.

Itulah yang sedang terjadi pada Fathur Rahman Al-Ghozi, seorang pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, yang ditangkap di Filipina pekan lalu.

Ghozi mungkin bukan Katharina yang inosens. Pemerintah Filipina menuduh dia mendukung aksi teror gerakan separatis muslim di Mindanao Selatan—suatu hal bisa mungkin, meski harus dibuktikan di pengadilan. Tapi tudingan bahwa dia anggota sel Al-Qaidah, dan karenanya harus dihukum lebih berat, mungkin jauh panggang dari api.

Tidakkah dia sekadar korban sampingan, collateral damage, dari perang Amerika melawan terorisme?

Pertanyaan itu patut diajukan sekarang, ketika makin pudar otoritas moral para politisi Washington untuk bertindak atas nama ribuan orang yang tewas dalam serangan teroris 11 September. Juga makin pudar simpati dunia setelah kampanye Amerika "melawan terorisme" kian hilang arah. Tujuan awal menegakkan keadilan—yakni mencari bukti meyakinkan, menangkap dan menghakimi siapa sebenarnya dalang teror—menjadi catatan kaki belaka. Bahkan dilupakan.

Bom-bom Amerika telah membunuh penduduk sipil Afganistan dalam jumlah lebih banyak dari yang tewas di Manhattan. Toh, George Bush gagal menunaikan janji kepada publiknya sendiri: menangkap Bin Ladin "hidup atau mati"—bahkan jika benar Bin Ladin dalangnya.

Harga nyawa Afganistan lebih murah dari nyawa Amerika. Tapi belum debu sepenuhnya luruh di Afganistan, kini Bush telah melirik Irak. Target berikutnya barangkali Somalia atau Yaman. Atau bahkan mungkin saja Indonesia, jika Bush konsisten dengan pernyataannya untuk "tak hanya menghukum teroris tapi juga negara yang melindunginya".

Masih ingat ketika dia meminta dunia memilih: "berpihak pada kami atau menjadi musuh kami"?

Banyak negara telah menentukan pilihan. Dua pekan lalu Jenderal Pervez Musharraf menutup ratusan madrasah Islam dan menangkapi ribuan orang.

Desember lalu, pemerintah Singapura menangkap belasan tokoh Jamaah Islamiyah yang diduga menjadi cabang Al-Qaidah dan berniat meledakkan instalasi Amerika di negeri itu. Penangkapan tokoh-tokoh lain Jamaah juga berlangsung di Malaysia dan Filipina, tempat pemerintah setempat sukses menjaring Al-Ghozi.

Penangkapan di tiga negara Asia Tenggara itu, yang informasinya dipasok intelijen Amerika, memberi petunjuk kehadiran Al-Qaidah yang "signifikan" di Indonesia.

Dianggap bersikap terlalu lunak, Presiden Megawati Sukarnoputri kini menghadapi tekanan lebih serius setelah penangkapan Ghozi itu. Di Amerika telah tersiar kabar di berbagai media bahwa Indonesia masuk dalam "daftar pendek negara-negara yang menjadi fokus perang melawan terorisme di luar Afganistan". Apa yang akan dilakukan Mega?

Yang menakutkan dari kasus Ghozi adalah bahwa dia tidak akan sendirian menjadi collateral damage.

Banyak rezim di Asia dan Timur Tengah memilih berpihak pada Amerika bukan karena mereka takut ancaman Washington, melainkan karena mereka bisa mengambil untung dari kampanye Bush. "Kampanye antiteror yang dipimpin Amerika Serikat membuka peluang bagi penindasan kebebasan sipil di berbagai belahan dunia." Itulah bunyi kesimpulan Human Rights Watch dalam laporan tahunan mereka yang terbit pekan lalu.

Para sultan dan raja di Timur Tengah punya alasan kuat membungkam setiap aspirasi demokratis. Jenderal Musharraf dan Mahathir Mohamad menemukan tangan lebih digdaya untuk melibas oposisi. Presiden Arroyo punya dalih membiarkan pasukan Amerika datang lagi ke negeri itu, setelah keluar dari Subic dan Clark beberapa tahun lalu, untuk ikut membasmi gerakan separatis Moro.

Di Indonesia? Sejumlah kalangan militer kini merindukan bantuan Amerika yang terhenti sejak kasus Timor Timur. Menjadi kedengaran wajar jika Kepala Badan Intelijen Negara Letnan Jenderal Hendropriyono menggaungkan suara Paul Wolfowitz, pejabat Pentagon, tentang kehadiran Al-Qaidah di Indonesia. Dan pekan lalu, mengutip seorang pejabat Indonesia yang tak mau disebut namanya, Associated Press menulis bahwa sebuah sel Al-Qaidah lokal berencana meledakkan Kedubes Amerika pada Juli 2001.

Tanda-tanda sudah digelar. Tapi, jika itu terjadi, Indonesia akan terbenam dalam ilusi jika percaya bahwa kekerasan bisa ditumpas dengan kekerasan seperti Amerika mempercayainya. Lebih dari itu, bukan hanya Ghozi atau gerakan Islam yang menjadi korban dalam prosesnya. Kelompok oposisi, gerakan otonomi daerah, dan aktivis sekuler lembaga swadaya masyarakat pun akan punya nasib serupa.

Seperti terjadi pada Katharina Blum, hak sipil seseorang bisa mati hanya karena dia berkawan dan berkerabat dengan orang-orang yang sudah dicap "fundamentalis Islam" atau "kiri". Kita sudah melihatnya dizaman Soeharto.

[Tempo | Edisi No. 48/XXX/28 Januari - 3 Februari 2002]
Share on Google Plus

0 Comments:

Posting Komentar