Tanaman Langka di TWA Tangkuban Parahu Diduga Dirusak Pengelola Malah dijadikan Ini

SUBANG – Beberapa jenis pohon langka berusia ratusan tahun ada di lokasi Taman Wisata Alam (TWA) Tangkuban Parahu, diduga dirusak oleh pengelola dengan. Menurut Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Giri Makmur Cikole Lembang, Asep Dian Heriadi alias Yosep pengrusakan alam yang diduga dilakukan oleh PT GRPP sudah lama terjadi. Dia memiliki bukti bukti pengrusakan berupa dokumentasi foto.
Yosep menyebutkan nama beberapa pohon yang dirusak yaitu Pohon Puspa, Pakis, Pemanah Rasa, dan beberapa jenis pohon langka lainnya. "Pohon tersebut sengaja dirusak dan yang miris dijadikan furniture oleh PT GRPP," ujar Yosep, Senin (09/09/2019). Kemudian dia memperlihatkan beberapa foto digital berupa furniture dan potongan kayu yang diklaim berasal dari tanaman langka.
Yosep melaporkan kondisi terkini Tangkuban Parahu bersama Paguyuban Jaga Lembur, Paguyuban Pedagang dan Manggala Garuda Putih yang berada di kawasan TWA Tangkuban Parahu.
Kata Yosep pohon yang berusia ratusan tahun itu kata Yosep, dijarah dan dieksploitasi paksa. Padahal jenis jenis pohon tersebut adalah pohon yang berstatus lex specialis atau dilindungi undang-undang.
"Dengan pengrusakan pohon langka tersebut, berarti pihak pengelola melakukan tindak pidana serius dan akan dilaporkan ke penegak hukum dan ke Presiden Jokowi," tandasnya.
Sebagian sisa batangnya, menurut Yosep, sudah ditimpa  bangunan di atasnya. "Tunggul atau sisa batang pohon selebihnya dibuang begitu saja. Kalau pun tidak dijadikan furniture, pohon pamanah rasa itu jika dipindahkan akan mati," ucap Yosep.
Dengan situasi demikian, Yosep menilai kedatangan pengelola swasta di Tangkuban Parahu ini justru mengancam kelestarian alam dan menimbulkan bencana alam.
"Selain itu, pihak PT GRPP juga tak berkoordinasi dengan BMKG dalam pembangunan gedung. Yang terjadi kemudian, gedung-gedung mereka malah menutupi alat-alat pendeteksi yang menjadi titik koordinat pemantau aktivitas gunung. Jelas itu merugikan dan membahayakan masyarakat akibat akses informasi kebencanaan yang terhambat," pungkasnya.
Ketika ReporterJabar.com melakukan konfirmasi kepada pihak PT. GRPP melalui telepon, hingga berita ini ditulis telepon tidak diangkat. (Satriya/Ist)
Share on Google Plus

0 Comments:

Posting Komentar