Hindari Kebiasaan Bakar Sampah Supaya Tidak Begini


SUBANG – Kerawanan pada musim kemarau salah satunya ialah ancaman kebakaran. Seperti yang terjadi di lahan semak belukar di Desa Ciseuti Kecamatan Jalancagak pada Rabu siang (31/7/2019).
Menurut kesaksian warga diduga kebakaran itu terjadi akibat ada yang membakar sampah di lahan kosong tetapi di sekitar lokasi banyak berserakan sampah ditambah hembusan angin cukup kuat.
Alhamdulillah kebakaran tidak menimbulkan korban jiwa dan berhasil dipadamkan oleh satu unit mobil dampak petugas pemadam kebakaran dan aparat muspika serta warga sekitar yang bergotong royong memadamkan api. "Untung masih bisa kami padamkan. Yang kami khawatirkan (api) menyambar kabel (listrik)," ujar warga.
Salah seorang pegiat lingkungan, Rahman menyesalkan masih ada kebiasaan warga yang membakar sampah. "Apalagi sekarang ini musim kemarau yang cukup panjang. Banyak sampah kering. Kenapa kok dibakar, ya?" ujarnya dengan nada sesal.
Paling ideal kata dia sampah itu dilakukan pemilahan antara organik dan anorganik. Untuk kemudian dilakukan pengolahan. "Kalau yang organik bisa dijadikan kompos. Itu 'kan bagus buat menjaga kesuburan tanah," imbuhnya.
Lalu untuk sampah anorganik seperti plastik itu bisa dibagi lagi yang dimanfaatkan langsung menjadi handycraft/handmade dan menjadi bahan dasar untuk diolah lagi dengan cara dilebur menjadi bentuk lainnya. "(Plastik) jangan dibakar. Bisa menjadi polusi yang bahayanya lebih merusak," katanya.
Dia berharap kebiasaan membakar sampah itu supaya dihindari. Lebih baik dijadikan kompos atau diolah lagi. Terlebih kebiasaan membakar sampah itu bisa mengancam jadi bahaya kebakaran. (Satriya/CR)

Disclaimer

Opini menjadi tanggungjawab penuh penulis. Hak Jawab atas Artikel/Berita diberikan sesuai dengan ketentuan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers