Cara Kemendikbud Lestarikan Seni Langka di Indonesia

PURWAKARTA – Kesenian menjadi bagian penting kekayaan bangsa yang perlu dijaga kelestariannya. Salah satunya Seni Pantung Buhun Gemyung yang hingga kini sudah terhitung langka. Hingga kini ada yang masih mempertahankannya melalui Sanggar Seni Pantun Sunda Buhun Gemyung Dangiang Linggar Manik pimpinan Mang Ayi Basajan asal Cibalandong Subang. Keberadaannya telah berdiri puluhan tahun.
Atas eksistensinya, Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan menganggap penting keberadaan kesenian gemyung untuk dilestarikan dan diperhatikan kalangan luas. Maka Lembaga Adat Karatwan (LAK) Galuh Pakuan memfasilitasi sanggar milik Mang Ayi dengan Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) melalui program Fasilitasi Komunikasi Budaya Masyarakat (FKBM). "Alhamdulillah grup seni (yang dipimpin) Mang Ayi ini menjadi salah satu grup seni yang mendapat perhatian langsung Kemendikbud RI dan di bawah naungan LAK Galuh Pakuan. Sudah puluhan grup seni di Jawa Barat yang tersentuh program FKBM besutan Dirjen Kebudayaan. Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi tinggi," ujar Raja LAK Galuh Pakuan, Rahyang Mandalajati Evi Silviadi, saat di Subang, Minggu (07/07/2019).
Konon, kesenian Sunda Buhun Gemyung ini konon adalah kesenian asli Sunda yang tumbuh berkembang pada masa peralihan dari agama Hindu ke Islam sebagai media dakwah melalui kesenian. "Peran seniman kala itu sangat signifikan dalam mempromosikan dan menyebarkan ajaran pokok Agama Islam, selain tentunya para ulama dalam hal ini Walisongo. Bahkan diantara sembilan wali ini, ada satu wali yakni Sunan Kalijaga di Demak yang gencar berdakwah dengan pertunjukkan kesenian," tutur Evi Silviadi.
Menurutnya, akan berdampak bagus jika program FKBM itu dapat dilanjutkan karena manfaatnya sudah dirasakan oleh para pegiat budaya.
"Pemerintah sudah mengatur kebijakan yang efektif terhadap pengembangan unsur unsur kebudayaan di daerah sebagai upaya menjaga tradisi dan jatidiri bangsa," pungkasnya.
Sanggar Seni Pantun Sunda Buhun Gemyung Dangiang Linggar Manik telah berdiri puluhan tahun. Pada awalnya, Mang Ayi dikenal sebagai seniman pantun Sunda Buhun dengan alat musik kecapi sulingnya.
Sekian lama, Mang Ayi seperti bersolo karir memangku tugas pelestarian seni Pantun Sunda Buhun. Itu akibat dari kesenian jenis ini sudah termasuk langka dan kurang diminati masyarakatnya sendiri.
"Saya bercita-cita meneruskan warisan kebudayaan leluhur saya. Apapun yang bisa saya berikan dan lakukan, saya akan lakukan demi kesundaan. Dengan tekad itulah, hingga kini saya masih bertahan," kata Mang Ayi Basajan. (Ist/Satriya).
Share on Google Plus