Bullying Jadi Tantangan SRA

SUBANG – Perundungan (bullying) menjadi tantangan utama dalam menciptakan Sekolah Ramah Anak (SRA). Karena kata anggota Gugus Tugas Sekolah Ramah Anak (SRA) Provinsi Jawa Barat, Drs. Iriansyah hal itu bisa dilakukan sangat mudah. "Tanpa modal ketika setelah dilakukan, mereka (pelaku)  merasa nyaman-nyaman saja. Tanpa mereka ketahui orang lain sakit hati atau cidera mereka melakukan karena tidak tahu padahal itu bisa menyakitkan hati," jelasnya kepada Reporter Jabar usai Rakor Sekolah Ramah Anak Program Kegiatan Pembinaan dan Kerjasama Lintas Sektor Bidang Perlindungan Anak DP2KB P3A Kabupaten Subang di Ruang Rapat Bupati Subang, Selasa (16/4/2019).
Oleh karena itu kata fasilitator SRA Tingkat Nasional ini harus dibiasakan perilaku tegur sapa dan hilangkan hubungan serior – junior. "Kegiatan (di sekolah) pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang diawali oleh Masa Pengenalan  Lingkungan Sekolah (MPLS)  atua Masa Orientasi Sekolah (MOS) formatnya tidak dilakukan oleh anak-anak siswa tetapi oleh guru pola dan kegiatannya tidak ada perploncoannya," tuturnya.
Lalu mengenai waktu pelaksanaannya dilakukan sampai pukul 2 siang. "Karena hanya masa pengenalan lingkungan sekolah saja," imbuhnya.
Kemudian awal pertama kegiatan MOS orang tua harus mengantar siswa. Nanti disana orang tua kumpul membuat kelompok grup orang tua untuk saling berbagi informasi. Itu sudah digagas  Direktorat Pembinaan Keluarga dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). "Untuk menciptakan sosok orang tua hebat," katanya.
Dalam Rakor dijelaskan upaya menciptakan SRA diantaranya ialah dengan lebih mengutamakan pencegahan dan menciptakan rasa aman. "Rasa aman ini penting supaya anak nyaman selama berinteraksi di sekolah," katanya lagi.
Kemudian ramah kepada anak dengan memberikan perhatian yang tepat kepada anak. "Bukan hanya senyum tetapi memberikan perhatian yang tepat kepada anak," imbuhnya.
Lalu mengenai fasilitas kantin harus tersertifikasi oleh BPOM atau Dinas Kesehatan. Kemudian dikatakan bahwa SRA sangat menunjang untuk menciptakan Kabupaten Layak Anak yang dapat menentukan kebahagiaan warganya.
Rakor diikuti oleh perwakilan Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama serta instansi terkait lainnya.
Share on Google Plus