Dorong Kemandirian Industri, PT. DAHANA Lakukan ini

SUBANG - PT. DAHANA berupaya serius mewujudkan visinya yaitu mendorong kemandirian industri bahan peledak nasional. Dikatakan Direktur Utama PT DAHANA (Persero), Budi Antono  hal ini diwujudkan dengan membangun fasilitas produksi baru di DAHANA.
"Hari ini DAHANA meresmikan fasilitas produksi baru untuk menunjang produksi bahan peledak komersil dan militer.  Tentunya fasilitas yang dibangun di kawasan EMC DAHANA ini adalah sebagai pengembangaan teknologi penunjang lini bisnis bahan peledak DAHANA serta untuk mewujudkan kemandrian bahan peledak nasional," terang Budi Antono ditengah kegiatan Peresmian Pabrik Fuze Bomb, Pabrik Emulsifier dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik Elemented Detonator di Kawasan Energetic Material Center (EMC) PT DAHANA (Persero), Rabu (30/1/2019)
Adapun Peresmiannya dilakukan oleh Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN RI, Fajar Harry Sampurno. Sementara Sarana dan Prasarana Pabrik Spherical Powder diresmikan oleh Sekjen Kemhan RI. 
Selanjutnya kata Budi pabrik Fuze Bomb adalah fasilitas produksi bom untuk melengkapi industri pertahanan.  Sebelumnya pada Maret 2018 DAHANA telah membangun dan meresmikan Pabrik TNT Filling, fasilitas industri bom P100 Live untuk pesawat tempur Sukhoi TNI AU. Salah satu kompenen bomb P100 Live adalah Fuze Bomb yang berfungsi menginiasi ledakan bomb. "Sebelumnya untuk memproduksi bomb P 100 Live, Fuze bombnya kita import.  Namun mulai tahun ini, kita sudah mampu memproduksi sendiri," ungkapnya.
Dalam pembangunan Pabrik Fuze Bomb kata Budi pihak DAHANA bekerjasama dengan perusahaan asal Bulgaria, Armaco JSC. "Untuk memiliki industri Fuze Bomb kita menggandeng Armaco Bulgaria dengan sistem Transfer Of Technologi  atau TOT, dan nantinya pabrik ini mampu memproduksi fuze sebanyak 200 sampai  300 Pcs per hari," terang Budi Antono.
Kemudian, ada juga fasilitas penunjang industri militer lainnya yang ikut serta dibangun dan diresmikan yakni Sarana dan Prasarana Pabrik Spherical Powder. Spherical Powder merupakan jenis propelan double base yang terdiri dari Nitrogliserin dan Nitroselulosa yang digunakan sebagai pendorong peluru atau munisi kaliber kecil.
Spherical powder merupakan bagian dari rencana besar Industri Propellan yang telah dicanangkan oleh pemerintah dalam 7 project nasional untuk kemandirian alutsista.  Sarana dan prasarana Pabrik Spherical powder yang diresmikan ini terdiri dari gedung pelayanan dan labolatorium, water treatment plant, dan power plant.
Pabrik ini dibangun untuk melengkapi Pabrik Nitrogliserin yang  sudah diresmikan sebelumnya oleh Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu.
Pabrik Baru Bahan Peledak Komersil untuk Pengembangan Bisnis DAHANA Peresmian fasilitas pabrik baru di DAHANA ini tidak hanya pada industri pertahanan, namun DAHANA juga membangun fasilitas produksi untuk mengembangkan lini bisnis komersilnya, diantaranya Pabrik Emulsifier yang merupakan pengelolaan bahan baku bahan peledak.
Emulsifier merupakan raw material pengemulsi untuk menyatukan antara 2 fase cairan, minyak dan air, dimana bahan baku ini cukup critical dalam pembuatan bahan peledak jenis water based emulsion explosives. Produk DAHANA yang dihasilkan dari proses tersebut adalah Dayagel, bahan peledak yang biasa digunakan pada sektor pertambangan umum, kuari dan Konstruksi serta sektor Migas.
Untuk memenuhi kebutuhan produksi Dayagel, Emulsifier sebelumnya didapatkan dari impor. Namun kali ini DAHANA telah memiliki pabrik sendiri yang mampu memproduksi bahan baku tersebut. Pembangunan Pabrik Emulsifier DAHANA bekerjasama dengan perusahaan Lubrizol asal Amerika Serikat. "Nantinya pabrik ini mampu produksi Emulsifier 50 Ton/Shift/hari," katanya.
Pembangunan pabrik Elemented Detonator disebut-sebut sebagai yang pertama di Indonesia. Elemented Detonator adalah bagian penting dalam produksi detonator baik Electric Detonator maupun Non Electric Detonator. "Pembangunan pabrik ini akan menjadi Pabrik Elemented Detonator pertama di Indonesia," katanya dengan bangga.
Dengan dibangun pabrik ini kata Budi menjadi bagian untuk mengurangi impor bahan yang selama ini dilakukan. "Sebelumnya, Dahana memenuhi kebutuhan Elemented Detonator dengan mengimpor. Peluang pembatasan impor ini dimaksimalkan sebaik-baiknya oleh Dahana sebagai produsen Non Electric Detonator dalam negeri dengan membangun Pabrik Elemented Detonator pertama  di Indonesia. Pembangunan utuhnya sampai pabrik mampu berproduksi direncanakan akan usai dalam waktu tiga tahun," tuturnya.
Dalam pembangunan pabrik ini, PT DAHANA (Persero) menjalin kerjasama dengan perusahaan asal Korea Selatan, Hanwha Corporation. Kerjasama ini sebelumnya diawali  dengan penandatanganan Perjanjian Pengadaan Peralatan Detonator Elemented.  Perjanjian ditandatangani oleh Direktur Utama PT Dahana (Persero) Budi Antono dan Head of International Business Hanwha Woon Seon Lee di Korea Selatan pada 19 Oktober 2018.
Hanwha terpilih sebagai penyedia teknologi untuk pembuatan Pabrik Elemented Detonator dengan nilai investasi sebesar US$ 13,62 juta. Selain itu Hanwha juga akan bertindak sebagai penyuplai bahan baku untuk Pabrik Elemented Detonator yang akan memberi Dahana jaminan continues supply terhadap pabrik tersebut dengan bahan baku yang berkualitas dan memenuhi spesifikasi pabrik. Kemampuan produksi pabrik ini dicanangkan mampu menghasilkan Elemented Detonator sebanyak 8 Juta Pcs/tahun.
"Dengan diresmikan fasilitas baru dan pencanangan pabrik lainnya, kami berharap ini mampu meningkatkan lini bisnis DAHANA dalam memenuhi kebutuhan konsumen, juga mampu memperbesar komposisi TKDN dan menunjang visi kemandirian industri bahan peledak," pungkas Budi Antono.
CSR DAHANA Membangun Pendidikan dan Lingkungan Subang
Pada kesmepatan itu juga diserahkan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk bidang pendidikan, seperti Green House di lingkungan sekolah, bantuan untuk perpustakaan, peralatan sekolah, sarana sekolah, difabilitas dan elektrifikasi.
Hadir pada acara ini, , Sekjen Kemhan RI sekaligus Komisaris Utama PT DAHANA (Persero) Hadiyan Sumintaatmadja, Wakil Bupati Subang, Agus Masykur serta pejabat lainnya dari beberapa Kementerian terkait, Pejabat Perusahaan BUMN Cluster NDHI, Forkopimda , dan Mitra DAHANA. (Satriya/Ist)