Inilah 5 Tantangan Petani Indonesia Menurut HKTI

SUBANG - Saat ini Petani Indonesia menghadapi lima tantangan serius. Dikatakan oleh Ketua Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Moeldoko tantangan itu ialah masalah lahan. Kemudian masalah permodalan pertanian. "Walaupun pemerintah telah membuka KUR atau Kredit Usaha Rakyat. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan," ujarnya saat memberikan motivasi kepada Taruna SMK 2 Subang Jawa Barat , Jum'at (3/8/2018).

Lalu kata Moeldoko masalah teknologi. "Petani kita tak terbiasa dengan teknologi, sering menggunakan teknologi konvensional," imbuhnya.

Ketiga kata dia ialah masalah manajerial. Seringkali mereka tidak tahu Harga Pokok Produksi (HPP). "Karena mereka melakukannya dengan suka-suka sehingga tidak tahu itu berapa HPP-nya," katanya.
Lalu masalah yang kelima ialah masalah pasca panen. Ketika panen harga menjadi rusak. "Petani dalam posisi tidak beruntung," ujarnya.
Selanjutnya dalam pengelolaan sering mengalami hilang produksi. "Dalam satu hektar hilang 10 persen. Coba bayangkan kalau produksi seluas satu juta hektar. 100 ribu hektar itu hilang," imbuhnya lagi.
Lalu ka Moeldoko kepada Taruna SMK di sini harus mengubah supaya memahami teknologi, membangun jaringan pemasaran. "Termasuk mengembangkan mikro biologi dalam menjaga kualitas tanah supaya tetap baik ketika ditanami kembali," paparnya.
Petani Indonesia harus terbiasa dengan teknologi, mengerti tentang manajerial dan memahami pasar untuk kesejahteraan mereka. Selanjutnya mencitrakan profesi petani lebih menjanjikan dari sisi kesejahteraan.
Dalam sambutannya Kepala Sekolah SMK 2 Subang, Iim Gunawan melaporkan bahwa SMK 2 memiliki 2200 taruna dan pengasuh 120 orang. Dalam pendidikannya mengembangkan vokasi yang menyesuaikan dengan permintaan lapangan kerja. Kemudian pengembangan program pelatihan dalam rangka penguatan guru meliputi vokasi dan profesi. Lalu melakukan pembangunan sarana dan prasarana yang diperlukan.
Kemudian dalam pemaparan motivasinya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendi bertekad ingin merebut kembali penguasaan pasar pertanian dunia oleh Indonesia. "Sebab sebelumnya pasar produk (pertanian) Indonesia dikenal memiliki kualitas yang baik di pasar dunia," ujarnya.
Oleh karena itu kata Muhadjir kita harus menciptakan petani yang mampu mehami teknologi menguasai ilmu pertanahan atau agronomi sampai penguasaan pasar.
Pada kesempatan tersebut hadir Perwakilan Kedutaan Besar Belanda, Ferdinand Lehenstein yang menyampaikan bahwa kerja sama dengan Indonesia telah berjalan dengan baik dan hingga kini telah menyekolahkan mendidik 70 orang guru Indonesia yang diharapkan akan mengembangkan teknologi pertanian di Indonesia. (Satriya/Foto HMS)